VPN dan politik di China

Sudah berapa hari terakhir akses VPN di China terganggu lagi. Astrill, penyedia VPN yang saya pakai pun dibuatklepekan ngga berdaya. Padahal mereka masuk high rank yang paling banyak di pakai dan stabil dibanding jasa VPN lainnya..

Bagi anda yang kebetulan belum ngerti apa itu VPN, bisa klik lihat disini. Dalam bahasa dan pengertian sederhana saya sih singkatnya: IP pengecoh. Kita akses internet di komputer atau hape kita, tapi bagi pihak luar identitas kita tampil sebagai identitas/IP address berbeda. Penjelasan teknis dan sistematisnya silahkan tanya ahlinya ;D

Dari pengalaman sendiri dan hasil ngobrol sama teman-teman sini, ternyata Astrill versi ponsel pintar lebih kuat bungkamannya; VPN terlihat terkoneksi/On, tapi begitu buka pages ‘terlarang’ macam Googleplay, Youtube, dsb termasuk FB dan WordPress ya ngga keluar datanya. Sementara di komputer/laptop masih bisa terkoneksi, walau kadang On-Off, dan harus tekun cari dan coba satu persatu server mana yang bisa konek. Pokoknya pain in the ass!  Tapi lumayan lah masih bisa akses dunia luar..

Berapa hari sebelum kemarin pun sempat jaringan internet di rumah kami mati total. Malamnya baru hidup lagi setelah di reset. Kemarin Astrill sempat pingsan total seharian jaringan internet dirumah, baru kemarin late afternoon baru ON lagi.. Singkatnya akses informasi dunia luar dari dalam China itu sering fluktuatif macam harga saham di bursa lah.. Lucunya ngga jarang pas sangaaat dibutuhkan pas itu lah kejadian VPN diganggu pemerintah sini.. haha.. Dukanya hidup di negeri non-demokrasi :p

So, kenapa begitu? Biasanya gangguan VPN terjadi saat di China ada peristiwa atau kejadian tertentu yang bersifat atau berdampak politis. Kata lainnya sih saat pemerintah sini takut itu mengganggu stabilitas masyarakat. Ekonomi adalah prioritas mereka, jadi suasana politik di kawal super ketat sama mereka supaya ngga ganggu ekonomi dan pembangunan. Mirip-mirip sama jaman rezim Suharto lah.. baik buruknya tergantung dilihat sama siapa dan mau pakai kacamata apa..

Jadi saat ini sedang berlangsung konferensi nasional nya China di Beijing. Pemerintah sekaligus partai satu2nya di negeri ini lagi bahas macam-macam hal. Ditengah itu yang saya tahu ada paling tidak 2 orang yang sedang bersuara keras terhadap negeri mereka ini. Satunya profesor universitas, satunya pengusaha sukses. Dugaan sederhana dan awam saya sih ada juga kaitan sama kevokalan dua orang itu, sampai si pengusaha pun akun Weibo nya di tutup sama pemerintah (Weibo itu Twitter nya China). Walau ngga ada hubungannya pun tetap konferensi itu jelas jadi alasan besar jasa VPN sedang diganggu saat ini, yang Astrill sendiri sudah kasih notifikasi resmi soal itu.

Hidup dimana saja pasti ada suka duka, untuk di China, ya ini salah satu dukanya🙂 tapi untungnya masih tergolong minor lah bagi saya..🙂

 

Hati-hati pakai jasa Forwarder

Posting ini mungkin lebih untuk anda yang kebetulan mampir kesini untuk cari info seputar forwarder…😀 Saya ngga akan ngoceh banyak soal tips dan info resmi karena sudah banyak info bagus dan lengkap soal itu. Saya mau cerita pengalaman saja.. mudah-mudahan cukup ngebantu bikin anda lebih hati-hati memilih forwarder…

Sudah sekitar 3 tahun saya jalani usaha sampingan (dan rumahan), yaitu membantu orang-orang di Indonesia yang pingin belanja dari online shops di China, mostly Taobao dan anak usahanya, Amazon.cn, dan Xiaomi.cn. Tahun ini saya putuskan untuk cuti panjang, karena perlu fokus ke belajar – targetnya mengambil berbagai kursus online sepanjang tahun.

Klien saya biasanya pelaku olshop atau pemilik toko di Indonesia. Tidak berlimpah ruah jumlahnya tapi order-order mereka yang bergantian cukup bikin sibuk dan rutin. Karena jasa layanan ini, saya jadi tahu dan belajar ini itu seputar Forwarder, alias jasa pengirim barang (dari pelabuhan/airport China ke Indonesia). Dalam hal forwarder ini saya justru lebih banyak belajar dari pelanggan. I love the power of learning by doing!

Sepanjang pengalaman pakai beberapa agen forwarder yang berbeda, baik saya dan pelanggan cukup beruntung umumnya ngga dapat masalah yang bikin tujuh keliling dan pingsan! Haha.. Kecuali dua kasus berikut ini saja..

BARANG SAMPAI TEPAT WAKTU TAPI ADA YANG ‘LENYAP’

Kasus tahun lalu, satu pelanggan rutin saya lapor ia ngga terima satu tas yang kebetulan harganya termasuk tinggi. Saya yakin 100% semua pesanan dia sudah terkirim karena saya handle sendiri semua item, saya ingat persis tas itu sudah masuk karena selain nilainya termasuk tinggi (yang bikin saya harus lebih hati-hati), juga saat pengecekan dan pengepakan saya pakai sistem dan checking sheet cukup rapi, termasuk double triple checking saat saya masih ragu apa semua barang sudah masuk. Saya biasa sertai dokumentasi ke pelanggan. Pelanggan dan saya komunikasi cukup baik. At the end of the day, saya ngga bisa ganti rugi karena saya percaya kesalahan di pihak forwarder.

Ada rasa sih pingin adopsi model pelayanan konsumen retail ternama Nordstorm, yang betul-betul menganut falsafah “konsumen selalu benar” (walaupun faktanya bisa saja si konsumen salah). Kalau saya menganut falsafah itu, teorinya saya harus ambil inisiatif untuk ganti rugi nilai barang yang hilang, walaupun tas hilang itu bukan salah saya. Tapi, saya berpikir, kalau saya adopsi falsafah itu rasanya kok seluruh proses panjang dan melelahkan kerja saya itu ngga cukup terapresiasi😦 Intinya, ya usaha kelas teri ini belum mampu lah secara ekonomi untuk mengadopsi falsafah kerennya Nordstorm!😦 Apa boleh buat, saya kehilangan satu pelanggan. Wajar. Yang jelas saya tahu porsi saya sudah dilakukan sebaik mungkin.

Gimana dengan forwarder-nya? Menurut pelanggan saya itu mereka yakin tidak terima tas itu (paket saya kirim dalam beberapa box ukuran besar, artinya semua box dibuka dan cek, lalu gimana bisa bilang ngga terima sementara saya yakin luar dalam itu tas sudah masuk). Tidak jelas apa ada update setelah itu. Soal ganti rugi juga saya ngga tahu karena itu di luar porsi saya. Jadi ada missing link di situ…

BARANG BARU SAMPAI BERBULAN-BULAN DARI WAKTU YANG DIJANJIKAN

Kasus kedua, ini menimpa pelanggan lain, yang transaksinya terjadi jauh berbulan-bulan sebelum kejadian pelanggan saya di cerita atas, tapi ternyata barangnya baru ia terima pekan ini! Pengiriman (laut) terlama selama jalani usaha ini – lebih dari 6 bulan yang seharusnya hanya 21 hari😦 Ini forwarder yang sama dengan kasus di atas.

Pelanggan saya cukup paham bahwa sejak awal sudah diberitahu barang yang sudah masuk ke tangan Forwarder adalah di luar tanggung jawab saya.. Tapi kami tetap komunikasi dan share.. saya juga ikut komunikasi bertanya perkembangan ke Forwarder. Untungnya forwarder yang kami pakai itu cukup komunikatif, menunjukkan niat baik, dan bertanggung jawab.

Penjelasan dari forwarder adalah, kontainer tertahan di pelabuhan Malaysia karena red line. Saya ngga ngerti apa itu red line. Menurut customer service forwarder ini (yang untungnya sangat reponsif dan komunikatif), red line itu adalah kondisi kontainer tertahan di pelabuhan luar Indonesia menunggu antrian masuk. Mungkin penyebabnya bisa macam-macam, tapi saat itu menurut infonya, pemerintah Indonesia sedang mengetatkan aturan barang impor masuk. Saat kejadian itu kebetulan berdekatan dengan isu SNI – banjirnya barang dari China yang ngga melalui proses standarisasi nasional. Saya ingat sampai ramai demo razia produk non-SNI di beberapa pasar elektronik Jakarta. Jadi saya pikir, “oh okay makes sense!”.

Dari situ, persoalan merembet. Karena kontainer tertahan lama di pelabuhan, masih menurut CS ini, tagihan parkir kontainer pun bertambah yang hitungannya harian. Forwarder kami ini merasa harus membebankan juga ke pengguna jasa (pelanggan saya itu). Pelanggan saya keberatan, jelas. Ini jadi memunculkan pertanyaan, yang saya ajukan ke CS itu tapi sayangnya tidak terjawab: dalam aturan shipping yang ada, kejadian seperti itu mustinya jadi beban siapa? Itu pun, apa memang ada aturan main formalnya?

Di luar itu, saya jadi dapat pelajaran, satu saat butuh forwarder lagi, saya akan cari yang sudah punya dan jelas perijinan usahanya, dan diperlihatkan ke saya sebelum transaksi. Saya pikir ini penting untuk meminimalisir kemungkinan terjadi hal seperti itu. Kalau terjadi pun akan jelas siapa bertanggung jawab atas apa-nya. 

Singkat cerita, baru berapa hari lalu pelanggan ini terima barangnya. Sedihnya, kondisi cukup berantakan – nyesak juga lihatnya karena saat kirim barang rapi tertata dan…utuh! Ya betul, beberapa barangnya hilang.😦 Untungnya waktu kirim paketnya, saya sudah sertakan foto-foto kondisi dan jumlah barang. Jadi kerugiannya multiple, kekecewaannya sudah mentok pol! Saya jelas sangat prihatin dan ikut kirim komplain ke forwarder.

Berita baiknya, forwarder ini mengakui porsi kesalahan mereka, dan bersedia ganti rugi barang yang hilang. Hanya pelanggan saya dikenakan tarif minimal kirim paket laut, yaitu 0.5 cbm, karena walau volume paketnya ngga sampai segitu tapi nilai total produknya tinggi. Yang mana solusi cukup fair buat kedua pihak. Cukup lega dengarnya.

Kesimpulan..

(1) Jangan parno dan ngeri berlebihan juga untuk pakai jasa forwarder, karena masih banyak forwarder lain yang kerja rapi dan sangat profesional. Logikanya, shipping dan forwarding kan salah satu kunci lalu lintas perdagangan dunia, jadi ngga mungkin ngga ada proteksi untuk semua pihak terkait praktek forwarding. Yang bisa kita lakukan adalah kehati-hatian dalam memilih forwarder saja.. Jaman internet gini jelas lebih mudah.. yang penting jangan malas googling dan baca sendiri.. ;D

(2) Cerita-cerita ini bukan untuk menakuti tapi sekedar kasih insight supaya ngga terlalu kaget dan panik saat mengalami kejadian serupa.. namanya bisnis ada resiko dan kemungkinan meleset, kasus seperti ini salah dua-ya hehe.. ngga diharapkan tapi harus siap kalau sampai terjadi..

So, buat anda yang kebetulan sedang cari forwarder, semoga segera dapat yang bagus!!🙂

Pernik hidup di Tiongkok (2)

Di tulisan sebelum ini saya cerita sedikit soal kemenangan kecil ber-Alipay, hehe.. Di tulisan ini mau sambung cerita soal tantangan kecil hidup di China ;D

Tahu UBER kan? Rata-rata anda mungkin sudah tahu apa itu UBER. Untuk yang belum tahu, UBER itu jasa ‘taxi’ swasta berbasis aplikasi smartphone. Kita bisa pesan ‘taxi’ lewat smartphone dan bayar lewat alat pembayaran yang di tunjuk – tapi non-cash sejauh saya tahu. Di Indonesia terakhir saya dengar UBER akhirnya dilegalkan di Jakarta, tapi masih punya kendala formal untuk beroperasi luas (terkait perijinan dan pajak).. tolong koreksi kalau keliru. Di China sudah walau sempat masalah, sekarang sudah beroperasi termasuk di kota tempat saya tinggal.

Di jam-jam tertentu seringkali taxi sulit betul di dapat. Bikin stres kalau itu pas dibutuhin banget! Taxi UBER ini bisa jadi pilihan yang sangat ngebantu di saat seperti itu.. Pekan lalu saya ngalami juga pakai UBER pertama kali. Sore itu bersama 3 orang teman kami nunggu taxi setelah hang out. Jam pulang kerja, susah dong taxi.. bis juga semua padat menggeliat isinya. Salah satu teman kami kebetulan punya akun UBER dan pesan taxi. Rasanya ngga sampai 5 menit sudah dapat respon, di peta terlihat ada beberapa mobil UBER dekat lokasi kami. Setelah nunggu sekitar 20 menit duduk juga kami berempat dalam taxi kami: KIA baru dan nyaman sekali.

Kami berbagi tujuan yang berbeda, tapi si teman bilang ongkosnya biasa lebih kecil dari ongkos taxi reguler. Tagihannya masuk ke kartu kredit si teman. Saya pun jadi makin naksir sama si UBER!

Hari berikutnya saya coba donlot dan install aplikasi UBER – versi bahasa Inggris. Setiap langkah lancar dan bikin senyum saya melebar..sampai ke step setting alat pembayaran. Here we go..

Berkali-kali coba gagal terus. Opsi pembayaran ada 3 kalau di China; Alipay, Kartu bank (debit), atau Kartu kredit internasional. Saya ngga coba kartu kredit karena kami berdua sampai kini ngga ber-kartu kredit dan berusaha untuk ngga bikin – sedapat mungkin.

Setelah pusing dan bete bolak balik gagal setting, baru kepikir untuk baca FAQ di Help center aplikasinya. Oalaaah ketahuan deh kalau Alipay dan kartu debit bank hanya untuk warga negara China, makanya kolom verifikasi ID menolak nomor ID yang ngga sesuai sama format national ID mereka. Capek deeeh..😀

Akhirnya cari-cari ikon delete/cancel account, tapi kok ngga ketemu sudah ke tiap pojok. Ternyata untuk itu kita harus kontak Tim Support mereka dan merekalah yang akan menghapus akun kita – yang mana masuk akal dan cermat..yang terpikir oleh saya ya soal keselamatan penumpang dan pengemudi selain soal pembayaran dan tagihan.. Respon mereka sangat cepat, ngga sampai 24 jam sudah dapat email dan ngga berapa lama sudah terbatalkan akun saya.

So, mau pakai UBER di China? Penduduk asing harus punya kartu kredit. Gimana di tempat anda? Ada UBER kah? Kalau ada apakah mudah dan bersahabat sistem pembayarannya? Ada pengalaman menarik ber-UBER mungkin?🙂

Pernik hidup di Tiongkok (1)

Hidup di China sebagai orang asing banyak sekali tantangannya. Tantangan terbesar yang saya alami dan lihat di sekitar saya adalah soal bahasa. Bahasa China, yang orang sebut Mandarin, ada yang bilang mudah, tapi sebagian besar orang asing bilang susah. Saya termasuk yang merasa menguasai bahasa China itu susah, terutama bagi saya adalah di hanzi-nya (tulisan kanji), serta peran tone yang sangat besar dalam mengubah arti, serta fakta bahwa hanzi yang beda bisa saja sama dalam pengucapan (tone dan ejaan pinyinnya) tapi beda arti. Judulnya tujuh keliling pokoknya..

Anyway, kali ini saya pingin cerita soal tantangan menggunakan perangkat perbankan dan aplikasi sosial yang nge-trend di sini.. UBER dan Alipay.

ALIPAY

Berapa hari belakangan saya lagi uplek oprek nyoba transfer uang dari akun Alipay (hasil kiriman orang) ke rekening bank saya sendiri. Gagal terus setelah beberapa kali coba, akhirnya baru tadi sore berhasil! Berhasilnya setelah melototi tiap detil tulisan di halaman transfer dan baru lihat tulisan kecil di bawah box transfer, “Pay with Bank Card – Change”. Nah kata “change” itu yang ngebawa ke pilihan asal saldo, setelah di klik baru kelihat pilihan asal dana yang salah satunya adalah Alipay “Balance”.

Aha moment banget rasanya! Haha.. setelah di rubah pilihan asal dananya ke “(Alipay) Balance baru deh itu dana berhasil tertransfer ke rekening bank. Yang estimasi standarnya 2 jam baru masuk tapi dalam beberapa detik aja sudah masuk ke rek bank (saya terima sms otomatis dari Bank).

Sekilas memang terkesan simple dan gampang aja. Tapi eits ngga gitu kadang dilapangan pas ngalamin sendiri..walau aplikasinya sudah dalam bahasa Inggris.. hehe bela diri :p

(Bersambung ke tulisan berikutnya – UBER..)

Free online courses..

So I have missed many days of blogging in February, which I am not happy about. Other than taking care of my teaching field, I’m also taking some online courses at Coursera and FutureLearn. The whole courses are:

  1. Programming and the Web for beginners (Coursera)
  2. Logical and critical thinking (FutureLearn)
  3. Introduction to Ecosystem (FutureLearn)

I have been knowing Coursera as a free online learning platform for the last few years, yet when I was enrolling it is asked for tuition fee. My financial is just not allowing for now. Fortunately they provide a way for such case; Financial aid!

So, you just need to fill out their form and demonstrate how the financial aid will be helpful for you. I haven’t got any reply or official note about the aid I was applying for, but they unlock the course moduls afterwards.. like a couple days after I submit the application. Yay!

The other 2 courses are totally free. So you just need to click join then kadabum! you’re in.

It’s been a few days learning with them (Futurelearn courser has already started) and I feel wonderful and happy about it!

To begin this March, I forced myself to end the long absence of blogging. A few days ago I stumbled upon a social media post saying something like; there are so many beginners, but so few finisher.

That was a perfect reminder for myself and blogging, so here I am sitting and writing my piece of sh*t again! ;D

By the way, how do you feel and think about free online courses? Is it worth taking? Did you have any experience taking any? Which one is your favorite platform and why so?

Happy Lantern Festival!

Kemarin, hari ke-15 bulan pertama tahun baru Cina, adalah hari terakhir rangkaian Spring Festival alias Lebaran Imlek terkenalnya di tanah air. Di Indonesia hari ke-15 ini terkenal dengan perayaan Cap Go Meh ya kalau tidak salah..

Jadi semalam itu seantero kota diramaikan meriahnya petasan sejak petang sampai sedikit lewat tengah malam. Di lokasi-lokasi tertentu malah diselenggarakan Lantern Festival, di mana massa melepas lampion ramai-ramai..langit yang gelap jadi cantik sekali! Kabarnya sih kini festival demikian di batasi lokasinya terkait demi keamanan pesawat terbang.

Selain lampion kertas, malam ke-15 di sini juga identik dengan makan tang yuan alias sup bola berisi aneka ragam isi – biasanya sih manis-manis. Saya belum cek apa nama kanjinya disini dan apa namanya di Indonesia, tapi bola-bola isi yang terbuat dari tepung beras ini jadi simbol bulan penuh/purnama (cmiiw). Jangan tanya sejarahnya ke saya ya, hehe, pengetahuan dan keingintahuan saya soal sejarah cerita rakyat apalagi yang terkait mitos bisa dibilang cukup rendah :p

Sebetulnya semalam pingin ke Gerbang Selatan City Wall buat liat cantiknya pesta lampion kertas, cuma hubby malah gantian sakit seputar pencernaan..kasihan juga ditinggal lama-lama, akhirnya saya cuma keliling sendiri seputar blok ini untuk iseng hunting foto menarik.. ngga ketemu orang lepas lampion kertas dapatnya ya standar aja – aktifitas berpetasan warga..😀

Untuk yang merayakan, 元宵快乐 (Yuan Xiao Kuai Le)!!

Salju (mungkin) terakhir…

Setelah tahun baru China yang sekaligus awal dari Festival Musim Semi tradisi China hampir berakhir, harapan untuk salju turun bisa dibilang hampir ngga ada, apalagi di provinsi kami di mid north-west China yang musim dinginnya ngga se-ekstrim wilayah utara perbatasan Rusia seperti provinsi Heilongjiang. Apalagi beberapa hari terakhir cuaca cukup bermatahari walau masih berkisar di suhu 0-7C, dan malam hari kadang masih menyentuh -1 hingga -3C (untuk terjadi salju suhu konstan musti mencapai bawah nol Celcius).

Sejak kemarin sore langit putih susu sempat ngasih ‘feeling’, “hmm seperti mau snow, crossing fingers!”. Tadi pagi juga gitu, putih susu seperti biasa menjelang salju turun. Suhunya juga terasa pas untuk salju. Sekitar jam 12-an siang lihat keluar jendela, whoaaa..saljuuu!!! deras dan big flakes pula!!

Saking girang dan semangatnya, pusing lemas dan sisa mual dari keracunan makan semalam sirna sejenak…Dugaanku sepertinya ini salju terakhir hingga nanti ketemu musim dingin berikutnya, jadi Lila layak nikmatin tiap butir salju.. Jadi deh kami putar-putar di taman gedung..

Saat ini sudah berhenti saljunya, tapi langit masih putih susu tebal… berharap banget nanti malam turun lagi hingga pagi.. kalau beruntung demikian, berarti besok pagi ada kesempatan kami bawa Lila ke taman kota untuk lari-lari bebas di salju tebal lagi… sebelum musim semi betul-betul hadir..