Imlek 2011: What a blast, literally blast!

(Februari 4, 2011/00.55am)

“What a blast!” adalah apa yang muncul dikepala saya tentang imlek alias perayaan tahun baru di cina, terutama kota daqing. Imlek tahun ini jatuh persisnya kemarin Februari 3—aneh rasanya nyebut kata ‘kemarin’ yang baru terlewati 59 menit lalu! Di hari pertama tahun baru cina petasan masih terdengar di sana sini..hampir 24 jam. Kami baru tiba dirumah sekitar 30 menitan lalu dari rumah teman kami, SM, yang merupakan kolega lama JP di sekolah sebelumnya. Capek sih, tapi mata belum siap pejam, so..  :)

Momen pergantian tahun kami nikmati dengan ‘inspeksi lapangan’ berdua ditengah kota..nonton orang bakar petasan & kembang api! Tapi jangan bayangin seperti yang kita lakukan di tanah air, dimana pertunjukan kembang api besar terpusat di hanya bebeapa titik besar sebutlah Lapangan Monas dan sebagainya. Disini, tiap orang lakukan pertunjukannya sendiri..ditiap lingkungan perumahan. Jangan dikira selalu ber-grup tapi bisa juga individu..seringkali terlihat seorang ‘anak dan bapak’ asyik pasang petasan besar yang menari2 dan warna warni di udara!

Tidak ada kerumunan berbondong menuju satu titik lokasi, biasanya grup besar tak lebih dari 15-20 orang..itupun umumnya berkendaraan sendiri jika jauh dari rumah. Di times square kemana kami berjalan menuju tak kami dapati kerumunan orang atau pertunjukan kembang api selain kesunyian dan gelap. Kemeriahan justru datang dari tiap lingkungan perumahan. Hasil jalan iseng kami itu adalah satu video non-stop sekitar 1 jam penuh berisi pertunjukan kembang api di tengah kota, dimulai dan diakhiri di flat kami. Karena kendala WordPress yang tak menerima format video MP4 maka paling mungkin saya tunjukkan videonya adalah dengan cara berbagi link ke youtube—tapi tunggu JP publish disana dulu yaaa..🙂

Beberapa perbedaan unik yang saya lihat dari momen pergantian tahun (imlek) di tanah air—jakarta—dan Daqing adalah poin-poin berikut:

  1. Pertunjukan kembang api besar di Jakarta terpusat di beberapa titik lokasi kerumunan, sebut saja lapangan Monas. Sementara disini pertunjukan dilakukan oleh tiap individu dan di lingkungan perumahan masing-masing, kadang malah persis didepan pintu gedung, atau dilempar dari jendela flat mereka walau yang terakhir disebut ini jarang dilakukan..well, kurang beradab aja rasanya lempar petasan atau kembang api dari jendela rumah! Kalo lihat itu saya Cuma bisa memaki sendiri.. :p
  2. Otomatis tak ada kerumunan orang bergerombol..apalagi buat onar. Kerumunan paling mungkin adalah keluarga dan orang2 terdekat yg umumnya tak lebih dari 10 orang. Di Jakarta, pergantian tahun jadi sarana untuk bersama teman2 ketimbang keluarga..dan bergerombol. Kiranya faktor cuaca juga pengaruh. Disini imlek hampir selalu jatuh di musim dingin, sementara tanah air adalah hangat sepanjang tahun..atau paling banter hujan! Faktor orientasi tradisi juga pengaruh, imlek adalah waktu buat keluarga, semacam lebaran dan natal di tanah air ketimbang hanya pergantian tahun. Proses perayaan imlek pun berjalan 15 hari, yang tiap harinya punya makna berbeda bagi mereka.
  3. Tak banyak polisi patroli keliling, masing masing tahu sejauh mana mereka bisa ‘go nuts with the firecrackers dan fireworks!’ Lol..
  4. Di Jakarta atau tanah air, kita dengar dentuman kembang api besar bertubi2 dan tak henti dimana2 mungkin menakutkan bagi turis krn sulit bedain mana perayaan mana teroris, tapi disini tak akan terlintas kekhawatiran bahwa teroris sedang beraksi..😉

Waaaahh, perayaan tahun baru cina di negeri panda benar-benar seru!!😀

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s