Kuaci alias Kuhua Zi

 

kuaci, kuhua zi, hantaran imlek
Kuaci alias Kuhua Zi: Hantaran dan hadiah Imlek

Salah satu hal menarik yang saya dapati selama hidup di Cina adalah; kemiripan dan kaitan antara kata-kata  dalam bahasa indonesia dan bahasa cina. Hingga kini reaksi spontan dan antusias saya tiap kali dapati kata baru yang ‘terdengar sama’ dengan kata indonesia adalah “wow!” lol..buat saya rasanya seperti menemukan puzzle pieces yang berserak jadi satu rangkaian bermakna!

 

Kiranya saya beruntung bisa belajar bahasa cina dengan ‘nyemplung‘ langsung di lingkungan penutur. Karena belajar bahasa lokal bukan prioritas utama tinggal di negeri ini, maka saya akui proses belajar bahasa saya termasuk lambat. Tapi yang saya suka dan dapati adalah kebanyakan kata baru yang saya dapat punya cerita tersendiri, thus lebih melekat dalam ingatan😀

Salah satunya adalah kuaci alias biji bunga matahari. Kuaci adalah bagian dari masa kecil saya..mungkin karena murah-meriah kuaci jadi salah satu penganan rutin keluarga saya dahulu. Saya suka sensasi asin dari kuaci kecil berwarna hitam pekat (hampir seperti biji semangka). Belakangan saya ngga terlalu suka makan kuaci, rasanya sih karena ngga sabar harus kupas kulitnya satu-persatu, plus makin banyak variasi penganan yang lebih praktis dan lebih lezat, hehe..

Anyway, terkait kuaci cerita uniknya adalah satu waktu di tahun 2010. Saat itu saya duduk dan ‘ngobrol’ iseng sama seorang bocah perempuan

Boks penuh kuaci dari Benson & Luis!

berusia sekitar 4 tahun—anak pemilik toko kelontong langganan, sambil menunggu antrian sate domba yang letaknya berderet dengan toko tersebut. Kuaci adalah salah satu penganan terpopuler masyarakat sini, saking populernya kita bisa lihat serakan kulit kuaci dimana-mana..termasuk di pelataran toko si bocah saat kami duduk-duduk. ‘Obrolan’ kami cukup menarik, bukan karena topik yang dibicarakan tapi karena satu sama lain peras otak buat ngerti apa yang sedang disampaikan oleh lawan bicara, LOL.. Selain atas kecerdasannya saya cukup terkesan dengan ‘kedewasaan’ si bocah saat berkomunikasi. Sama sekali ngga terasa seperti bicara dengan anak kecil yg biasanya takut, malu, dan grogi..atau terus menatap dgn tatapan kosong krn bingung mengapa saya tak ngerti pembicaraan mereka.

 

Saat kehabisan bahan pembicaraan, mata saya tertumbuk ke serakan kulit kuaci disekitar kaki kami. Spontan saya bertanya, “Zhè shì shénme?” (apa ini?). Ia yang mengobrol sambil makan kuaci itu menoleh ke serakan termaksud dan menatap saya penuh antusias sambil bilang, “Kuíhuāzǐ!”. Saat diucapkan kata itu hampir tak ada beda dengan kata ‘kuaci’, hanya tentu ‘Kuíhuāzǐ‘ terdengar penuh intonasi, karena dalam bahasa cina intonasi pegang peranan amat penting. Karena faktor intonasi jugalah akhirnya si gadis cilik berkepala botak ini berulang-ulang membetulkan nada pengucapan saya dengan–amazingly–sabar dan teliti.

 

Cukup buar setahun lebih! Saatnya cari resep masakan berbahan Kuaci :))

Mulai saya mengerti dan menarik garis bahwa kata kuaci kemungkinan besar meminjam dari bahasa cina karena perdagangan kuaci di Indonesia boleh jadi dibawa oleh para pedagang cina yang masuk ke Indonesia. Kemungkinan untuk kata Kuíhuāzǐ dipengaruhi oleh kata Kuaci menurut saya kecil mengingat usia peradaban dan bahasa kedua bangsa, tradisi berdagang kedua bangsa, dan tingkat popularitas biji bunga matahari di kedua wilayah. Ini asumsi, tentu perlu studi lanjut untuk lebih pastinya.

 

Lebih jauh, kuaci jadi salah satu objek hantaran dan hadiah menjelang perayaan tahun baru cina. Sekitar 2 mingguan menjelang tahun baru, pasar dan supermarket diramaikan oleh berbagai paket hantaran dan hadiah untuk diberikan ke keluarga dan orang-orang terdekat. Untuk makanan yang saya lihat terpopuler adalah; kacang-kacangan (walnut, kacang mede, pistachio, dan sebagainya) dan Kuaci. Sementara untuk non-makanan yang umum diberikan adalah simbol binatang yang mewakili tahun penanggalan cina, contohnya, tahun 2011 adalah tahun kelinci.

Tahun ini, The Pitkanens dapat hantaran sekotak besar kuaci dari sepasang teman kami yang penduduk lokal—Benson dan Luis. Bagi kami jumlah demikian akan cukup untuk persediaan lebih dari setahun…saatnya cari resep masakan berbahan dasar kuaci nih kayaknya!😀

 

 

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s