Kapan Punya Anak? Inilah Resolusi Pencerahan Kami..

Hari Titik Tolak
Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa 24 Januari 2012, saya dan JP tiba di satu titik. Titik dimana buah pemikiran soal anak matang dan terlahir. Titik darimana kami bertolak. Titik yang kami berdua rasa amat mencerahkan sekaligus luar biasa meringankan langkah panjang kami kedepan..

Sejak usia pernikahan memasuki usia 2 tahun kami mulai merencanakan kehamilan. Seperti umumnya orang, tentu berlapis alasan untuk melahirkan keturunan biologis. Sebagai manusia, wajar kan kalo muncul keinginan memperpanjang keturunan? Sebagai anak, wajar juga terdorong untuk ‘memberi’ cucu pada orangtua kami, terlebih bagi JP sebagai anak tunggal dari ayahnya. Sebagai lelaki, wajar kalo JP berhasrat pingin jadi figur bapak ‘hebat’ yang mengasuh dan mendidik anak biologisnya sendiri..begitu juga dengan saya sebagai perempuan terkait potensi sebagai ibu. Sebagai pasangan yang sama-sama peduli dan prihatin akan situasi kekinian global, juga wajar jika kami berdua pingin melahirkan generasi yang bisa meneruskan nilai-nilai positif yang kami ingin bangun bersama, dan lestarikan, melalui tangan kami sendiri.

Februari mendatang ini, usia pernikahan kami akan genap 5 tahun, artinya akan genap 3 tahun kami mencoba kehamilan. Bisa ditebak dong hasilnya per-hari ini, no luck yet..

Kendala Fisiologis
Secara fisiologis, hasil tes HSG nunjukin saya punya masalah penyumbatan tuba falopi kiri, untungnya bukan penyumbatan jauh (distal blockage). Menurut logika medis masih berpeluang hamil karena tuba falopi kanan ngga bermasalah. Peluang kehamilan terjadi adalah saat produksi telur datang dari indung kanan. Dari pihak pejantan (hehe..) juga ada isu cukup signifikan terkait produksi sperma, tapi setelah jalani pengobatan tradisional cina hasil tes menunjukkan ada perbaikan, kualitas sperma kembali normal.

Produksi indung telur sendiri tak terlalu bermasalah. Dari hasil monitoring ovulasi selama 4 siklus kontinyu telur selalu diproduksi dari indung yang sehat. Ngga ada isu soal ukuran dan jumlah telur. Perkembangan folikel juga normal. Hasil konsultasi dokter dari beberapa RS; kalau ngga sukses setelah 1 tahun pengobatan + percobaan alami kehamilan bisa coba lakukan jalan lain kehamilan, contoh terdekat adalah IVF, selain pemeriksaan lebih lanjut dan menyeluruh oleh dokter.

Usaha
Dalam kurun waktu hampir 3 tahun kebelakang, cukup banyak yang telah terkuras dan dialami berdua; fisik, mental, materi, waktu. Bagi anda yang pernah atau sedang mengalami hal serupa, tentu langsung paham apa yang saya maksud. Sementara anda yang ‘memiliki’ keturunan selancar menyetir di jalan tol, bersyukurlah tak perlu mengalami apa yang kami alami. Believe me, that sucks!

Setelah segala yang terkuras, awal kepindahan ke Xian ini sengaja kami gunakan untuk momen ‘recharging’ mental maupun biaya. 23 Januari lalu genap 5 bulan kami di Xian. Perlahan tapi pasti enerji dan mental pun mulai terbangun kembali. Namun rupanya, selama masa ‘reses’ itu berlangsung juga proses besar; kontemplasi dan konstelasi diri kami berdua. Dalam proses itu, segala ide, perasaan, niat, karakter, orientasi, impian, serta keinginan dalam diri berinteraksi dan menemukan pola unik dan indahnya sebagai kesatuan yang saling terkait.

So, pagi itu hari kedua perayaan tahun baru cina (imlek) 2012, obrolan tentang anak mengalir begitu saja, it’s not out of nowhere but a matter of timing. Intinya, kami sepakat untuk menyatukan hasil kontemplasi dan memulai langkah baru. Freewill yang terlahir pagi itu adalah; mencoret harapan dan usaha keras punya anak (biologis) dari list prioritas kami.

Menimbang berbagai hal, kami tetapkan untuk fokus pada aspek lain dalam mengisi sisa hidup kami. Di usia kami kini, 35 & 36 tahun, praktis harapan hidup yang tersisa hanya 40-50 tahun lagi. Jumlah itu terlalu singkat untuk hanya dipusingkan oleh usaha keras untuk ber-anak, sementara hal lain yang lebih produktif dan realistis buat kami terhidang jelas; (1) travelling melihat dunia, (2) peran aktif dalam aktifisme global HAM-Sosial-Kemanusiaan, (3) Berbagi dan ‘memiliki’ anak sebanyak mungkin melalui program orang tua asuh, (4) dan mungkin hal lainnya yang akan muncul didepan.

Secara sadar, kami tahu ada ribuan bahkan jutaan anak diluar sana yang butuh perhatian, cinta dan kasih orang-orang seperti kami – pasangan sulit memiliki anak. Bagian dari diri kami percaya bahwa things happen for reasons. Mungkin ketidakberuntungan kami ber-anak akan jadi keberuntungan anak2 diluar sana yang butuh keluarga, yang akhirnya jadi keberuntungan baru buat kami dan mereka. Mungkin ini dan mungkin itu lainnya.. Namun, rupanya baru di titik inilah kami mulai terima fakta itu sepenuhnya..

Mulai hari itu, langkah kami terasa jauh lebih ringan dan fokus. Kami berdua sadar, ada banyak pasangan yang kebahagiaan dan keutuhan keluarganya ‘musti’ terluka karena tak beranak biologis. Oleh karena itu kami bersyukur karena sudah berbagi ide dan hasrat yang sama tentang anak dan kebahagiaan pasangan. Happiness is to be celebrated, maka rasa syukur itu kami rayakan dengan extra budget buat makan hidangan favorit di restoran favorit, cihuy!😀

Semoga impian-kebutuhan-komitmen kami akan tetap utuh dan terjaga baik; yaitu untuk selalu saling mengisi dan melengkapi dalam ketidaksempurnaan hingga akhir hayat.

Kini, langkah kami kedepan makin mantap. Pertanyaan “Kapan hamil?” akan kami sambut dengan senyum bahagia di hati dan pikiran, “Hamil bukan lagi jadi prioritas kami kedepan, tapi kapanpun terjadi diluar usaha dan kuasa kami, tentu akan jadi kesempatan mulia dan penambah kebahagiaan”. Atau pertanyaan, “Kapan nih punya momongan?”, cukup hati dan pikiran kami yang menjawab bahagia, “Biarlah ide saling melengkapi dan mengisi kebahagiaan lahir batin sebagai pasangan jadi momongan terindah kami, diluar itu akan jadi momongan dan kebahagiaan ekstra”.

Salam cinta dan damai dari kami!😀

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s