Februari Spesial: H-13

Kutipan Cinta hari ini adalah:
“A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person” (Author unknown)

Terjemahan bebas:
“Perkawinan sukses mensyaratkan anda jatuh cinta berkali-kali, selalu pada orang yang sama”

Buah Renungan:
Kadang, ‘cinta’ bisa jadi kata yang terasa asing. Kadang, bagaimana kehidupan dan dunia menunjukkan dirinya bikin kata ‘cinta’ jadi satu hal yang amat sulit didefinisikan, atau dipahami. Jika anda pragmatis mungkin akan bilang, ‘peduli apa, jalani aja hidup tanpa banyak cincong atau pusing’. Keliatannya, saya cenderung yang secara alami cenderung ngeliat apa dibalik tirai panggung. Sisi riil dan dalam dari sebuah pertunjukkan. Kadang saya coba bersikap pragmatis, kadang berhasil kadang ngga.

Ngelantur? I don’t think so. Ngebingungin? Mungkin iya..πŸ™‚

Gini, saat saya baca kutipan itu, jujur sebagian diri saya langsung menyetujui, dan saya merasa ngga asing kenapa orang (siapapun yang melontar kutipan itu pertama kali) sampe berkata demikian. Rasanya seperti..”ya benar! saya pun mengalami demikian pada suami saya”. Disana sini, tak jarang saya berpikir tentang suami saya, saat itu saya merasa ‘jatuh cinta’ lagi padanya.. kadang saat saya tangkap sekilas ekspresi lelahnya, terasa perasaan aneh dan luluh.. atau kadang saat kebetulan pandangi wajahnya saat lelap tidur, perasaan tak terungkap kata itu juga muncul.. perasaan ‘berbagai ingin’.

Ingin jadi ‘rumah’ yang menenangkan baginya, ingin memahami jiwa dan pikirannya, ingin meredakan resahnya, ingin jadi yang bisa ia percaya dan andalkan, ingin selalu ada disisinya sebagai teman bagi jiwa sepanjang hayat, ingin jadi cinta terakhirnya hingga akhir hayat, ingin berbuat dan menjadi lebih baik buat jiwanya, ingin selalu memeluknya, ingin bantu wujudin apa hasrat terpendamnya, ingin bikin dia bahagia, dan ingin lainnya termasuk keinginan intimasi fisik tentu..πŸ˜‰ Alami lah ya.

Cuma, kadang saya bertanya-tanya sendiri, apakah segala rasa itu cinta sesungguhnya, atau lebih berupa ego sebagai individu? Apakah segala paket rasa dan pikir terhadap suami saya bisa dibilang cinta atau jangan-jangan bentuk refleksi cinta pada diri sendiri? Lalu, apakah cinta pada diri sendiri itu salah? Apakah ada definisi ‘cinta sesungguhnya’ yang baku? Jika-konyolnya-ada definisi itu, siapa yang -juga konyol- mengklaim otoritas tunggal untuk merumuskan dan menilai? Well oh well..Pertanyaan dan pergumulan tentang apa itu cinta bisa jadi amat panjang dan tak berakhir..sepanjang sejarah.. :p

Tiap orang jelas berhak dan secara alami memaknai ‘cinta’ dan ‘jatuh cinta’ sesuai pengalaman dan keyakinannya sendiri. Kedua hal itu amat subyektif. Sebagian orang bilang cinta ngga perlu didefinisikan, ya dan tidak menurut saya. Ya, saat kita ingin hidup dalam dan menghidupkan ‘cinta’ itu sendiri. Tidak, saat kita ingin melihat dan memahami seluk beluk ‘cinta’ secara ilmiah tentunya. Hanya sekeping pendapat, anyway..

Yet, sepaket pikiran dan perasaan saya yang terbentuk terhadap suami, saya lihat sebagai rasa cinta saya pada dia. Mungkin akan terus berkembang, berevolusi, dan menemukan makna sesungguhnya kemudian..seiring waktu dan peristiwa.

Sore tadi SMS Cinta terkirim ke JP, saat saya menunggu ia didepan sekolahnya. Sayang, ponselnya mati baterai, akhirnya saya bacakan didepannya, diakhiri dengan kecupan manis! There are still a lot more coming, dear..πŸ˜‰

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s