Februari Spesial: H-10

Kutipan Cinta hari kesepuluh menjelang the 5th anniversary:

“Trip over love, you can get up. Fall in love and you fall forever”. (Author unknown)

Terjemahan bebas:

“Saat bertualang cinta, anda dapat bangkit. Saat jatuh cinta anda jatuh selamanya” (Pengarang tak dikenal).

Buah renungan:

Jadi teringat kisah orang tua saya. Mereka menikah sedikit banyak karena ‘perjodohan’, tapi jangan bayangkan perjodohan ala Siti Nurbaya yang total memaksa. Abang tertua bapak saya, orang cukup terpandang di desa kami dulu, sebut saja lurah. Dan memang orang yang bijaksana. Ia paham karakter adiknya yang super keras hati dan pikiran. Sebagai kakak tertua ia peduli masa depan adiknya, karena kedua orang tua mereka sudah ngga ada. Maka dari sekian gadis desa mereka saat itu, pilihan jatuh pada ibu saya yang berkarakter lembut, pendiam, sedikit pemalu, dan dari keluarga ‘baik-baik’ dan sederhana. Singkat kata, si lelaki merasa cocok, si gadis juga tak menolak-walau ia sudah diberi tahu karakter dan sifat calon-nya.

Perjalanan rumah tangga mereka cukup panjang, mendekati 60 tahun usia pernikahan, dipisahkan oleh maut. Bapak saya meninggal diusia sekitar akhir 70-an. Tak pernah ada bukti tanggal dan tahun lahir mereka yang akurat, makanya kami pakai kata ‘sekitar’đŸ˜‰

Selama cerita perkawinan mereka, ibu saya berperan sebagai tokoh ‘pasrah, tak berdaya, dan super penyabar’ menghadapi karakter suaminya yang keras hati, pemarah, kalau marah kata-katanya keras dan kasar, sikapnya cenderung kaku. Diatas semua itu, saya duga alasan terbesar ibu saya bertahan adalah fakta bahwa walau begitu sang suami orang yang setia, ngga pernah lakukan kekerasan fisik ke keluarga-dan siapapun saya kira, amat bertanggung jawab atas keluarganya, jujur dan bersih soal mencari nafkah, penuh pengorbanan pada keluarga, agamis-yg buat ibu saya amat penting, pemaaf, dan sifat murah hati-nya yang tinggi itu ngga kenal teman atau musuh.

Tahun demi tahun ia lewatkan dengan airmata disana-sini, kelelahan melayani sikap dan sifat suami, selain mengurus 10 orang anak. Kami suka meledek, setelah bapak meninggal karena penyakit lama, “mau punya suami lagi ngga?”.. buat kami anak-anaknya itu ledekan serius, karena ia berhak punya pendamping hidup lagi, teman mengisi hari tua. Jawabnya selalu tidak, bahkan kedapatan sering menangis, saat sendirian maupun bersama anak-anaknya. Terkadang, tatapannya kosong, saat ditanya sedang mikir apa, kadang ia jawab, “rindu suami..”. Tak jarang juga denga ceria ia cerita segala hal tentang almarhum bapak kami, semua isinya kebaikan beliau. Ia cerita dengan senyum bahagia dan ceria. Disela-sela, kadang terselip keinginan ingin segera bisa bertemu lagi dengan beliau, dialam sana.. Hatinya telah terbawa oleh sang suami. Satu pesannya, jika tiba ajalnya, ia ingin dikubur berdampingan dengan almarhum. Bahkan, satu kapling sudah dipesan di sisi kubur lelaki yang ia cintai, atas keinginan terdalamnya yang disertai uraian air mata.

Luar biasa..kilas balik saat mereka bersama, tak kami sangka akan berakhir pada kerinduan amat dalam, cinta amat dalam pada lelaki yang telah mendampingi dan ia dampingi selama puluhan tahun.. sekali jatuh cinta, jatuhlah selamanya.. Semoga mereka dipertemukan lagi kelak. Amin.

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s