Februari Spesial: H-9

Hohoo.. Makin dekat ke tanggal 20! Inilah Kutipan Cinta terpilih hari ini:

“A Happy marriage is a long conversation that always seems too short” (Andre Maurois)

Terjemahan bebas:

“Perkawinan bahagia bak percakapan panjang yang selalu terasa amat singkat” (Andre Maurois)

Buah renungan:

Reaksi spontan saya saat baca kutipan ini adalah, “That’s sooo true!”. Kutipan diatas barusan terkirim lewat sms ke ponsel JP. Berharap bisa jadi penghangat di kedinginan ruang guru yang pemanas ruangnya lagi bermasalah, sekaligus penambah energi disela kesibukan kerja.

Sekitar akhir bulan lalu, saat sadar Februari mendekat, saya merasa agak tercengang juga begitu membayangkan angka ‘5’. Terlebih saat itu kami masih cukup gencar berusaha kehamilan. Rasanya seperti, “Wah,tau-tau udah 5 tahun aja! Cepet banget. Ngga nyangka saya akan mengalami sendiri angka itu dalam perkawinan..tanpa anak pula. Seperti beberapa orang yang waktu kecil saya ingat sebagai pasangan mandul bertahun-tahun, now I’m on the same board with them!“..😀

Kata mandul bagi saya sama sekali bukan sesuatu yang memalukan atau negatif. Cuma sebuah kata yang merujuk pada kondisi tubuh tak mampu ber-reproduksi. Ada kemandulan sementara ada juga permanen. Manapun jenisnya, saya merasa enteng saja menyebut diri atau disebut mandul. Selain karena faktual, membantu bersikap realistis dan jujur pada diri sendiri, juga gladly saya temukan ada unsur ‘pembebasan’ disana. Pembebasan dari ketakutan, kekhawatiran apa kata orang, juga dari keraguan untuk berbuat sesuatu yang lebih konstruktif buat mengisi hidup tanpa anak. Jika anda kebetulan yang merasa sensitif dengan sebutan itu, saya hanya bisa bilang, mohon maaf atas pilihan kejujuran saya. Really hope you won’t hate me because of it!

Tapi, buah renungan saya terkait kutipan itu bukan fokus ke isu anak :p Oke, mari kita fokus sekarang.

Jujur, saya ngga tahu apa ada barometer untuk mengukur kebahagiaan sebuah perkawinan. Jikapun ada, atas dasar apa otoritas diberikan pada pihak tertentu untuk melakukan pengukuran (penilaian). Si A bilang perkawinan bahagia adalah jika… si B berpendapat lain.. si C punya perspektif lain lagi.. dsb. Menurut saya, sulitnya sama seperti mencari tahu apakah ‘bahagia’ itu sendiri? :p

Karena saya lagi ngga mood berpusing soal definisi, maka cukup saya lihat dan ukur perasaan saya sendiri terhadap perkawinan kami. Hasilnya saya kira; secara keseluruhan bikin saya nyaman, tenang batin dan lahir, damai, merasa dihargai penuh oleh suami sebagai perempuan-istri-maupun individu, merasa diperlakukan adil, merasa optimis akan masa depan hubungan kami, dan tak henti syukur. Lepas dari perdebatan definisi ‘bahagia’, yang barusan saya sebutkan adalah kriteria kebahagiaan sebuah perkawinan. I would say..saya ngga bisa temukan ketidakbahagiaan besar atau prinsip dalam perkawinan kami. Itu sudah lebih dari cukup.

So, ya..dengan itu semua, 5 tahun berjalan terasa amat singkat!

Barusan JP telepon saya, bilang sudah terima sms. Dan, tentu lontarin ledekan dan humor khas-nya, “Iya..saya bakal coba lebih sabar dan sabar lagi, buat ngelayanin obrolan panjang kamu..kicauan burung kamu yang ngga berhenti..”, lol.. Oh well..

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s