Blogging: Menulis Untuk Menulis

Menulis untuk menulis..

 

Pagi tadi setelah JP berangkat kerja, pikiran dan hati saya langsung ngibrit ke komputer. Blogging!😀

Selama ini saya punya akun Multiply juga selain bayi-bayi baru saya; WP dan Blogger. Cuma, entah kenapa ngga begitu tertarik lagi aktif disana..mungkin karena isinya dominan ‘jualan’, sampe sanggup bikin Multiply banting setir, pasang imej utama sebagai Blog (tempat) Jualan, walau tetap mengakomodasi blogging tulisan-foto-video.

Karena orientasi blogging saya cukup terwakili oleh WP dan Blogger, rencana Multiply mau saya tutup. Tadi pagi pun mulai saya cicil pindah-pindahan. Ditengah pindahan, eh malah ketemu blog penjual batik yang keliatannya cukup aktif dan responsif-keliatan dari aktifitas posting & comment-nya. Duh, senengnya bukan kepalang! Pasalnya, belakangan saya memang lagi uplek cari T-Shirt dan kemeja batik buat hadiah keponakan di Kanada. Berharap  mudah dapatin lewat internet sesegera mungkin karena itu ‘hutang janji’ saya beberapa tahun lalu-yang cilakanya hampir terlupa digiling waktu dan keseharian😦

Dari hasil pencarian 3 mingguan ini, belum ketemu situs penjual batik yang nge-match dengan kebutuhan saya: (1) Bisa pesan ukuran, motif, dan warna sistem ‘tailor-made’, ketimbang produksi masal. Karena kedua keponakan di kanada pake ukuran amerika yang jelas beda dengan ukuran asia, masih remaja belasan tahun pula yang badannya cepet berkembang. (2) Bisa melayani pengiriman ke Cina. (3) Bisa menerima pembayaran Paypal. Sampai akhirnya ketemu LeenkShop di Multiply-blog yang saya rencanakan tutup!

Anyways, balik ke idea awal tulisan. Setelah masukkan beberapa tulisan ke sini, muncul (lagi) notifikasi di sisi kiri dashboard WP saya, yang berisi motivasi untuk terus menulis. Seperti nampak di hasil screen-shot yang diatas. Notifikasi sebelumnya muncul saat tulisan saya hampir masuk 25 item. Terus terang ikut nambah gairah menulis juga. Saya sangat hargai spirit dari ide positif WP itu.

Yang paling menarik dari motivasi kecil tapi berguna itu adalah, kutipannya amat mewakili satu dari alasan kenapa saya begitu bersemangat dan gembira blogging belakangan ini:

“Writing is a struggle against silence (Carlos Fuentes)”

Kata-kata penuh makna pak Fuentes itu, bikin mata saya tertumbuk beberapa detik..merenung..dan manggut-manggut setuju. Saya kira ada benarnya. Sejak kecil berbagai ide dan inspirasi cukup aktif tumbuh di kepala saya. Mungkin karena terlalu banyak dan sering ide itu melemah..sekarat..dan mati, maka hasrat dan ide ngga berakhir jadi apapun yang produktif dan terukur. Respon dari lingkungan terdekat (keluarga dan teman) saya dapati cukup ampuh mengaborsi tumbuh-kembangnya ide-ide itu. Atau, mungkin hanya karena saya biarkan itu terjadi?! Bisa jadi. Ngga tepat juga menyalahkan pihak diluar diri sendiri. Kalau memang saya 100% komitmen, apapun tantangan dari luar pasti langkah nyata akan tetap mengikuti, bukan? :p 

Yang jelas, berbagai faktor bikin berbagai ide baru maupun lama saya tinggal dalam diam, kalau tidak mati. Menunggu. Menimbun diri. Berharap bisa tertuang penuh. Terekspresikan. Terbebaskan dari maha luasnya sekaligus terbatasnya alam pikiran. Maha luas karena kita bisa berkelana kemana saja dialam pikir, sesuka kita, sebebas kita, tapi juga kadang menuntut realisasi..dimana alam pikir tak mampu mengakomodir.

Saya percaya, alam fisik tetap perlu untuk merayakan bahkan merealisasikan petualangan ide yang ada. Selain juga, secara alami pada akhirnya butuh apresiasi atas konstelasi ide itu. Apresiasi dalam arti luas, diluar fenomena pragmatis seperti ‘Like’ Facebook, atau puja-puji dan basa-basi sosial lainnya. Apresiasi yang konstruktif bagi pertumbuhan dan perkembangan warna warni ide itu sendiri.. yang mengakui dan menghormati eksistensi ide itu sendiri. Singkatnya mungkin..menulis untuk menulis.. menulis untuk menyebar ide demi eksistensi ide itu sendiri.. Hal yang jejaring sosial macam Facebook, Twitter, dan penggunanya tak mampu akomodir.

Tiap wadah tentu punya keunikan dan porsi tersendiri. Tinggal gimana kita gunakan sesuai porsi dan kekuatan masing-masing. Untuk interaksi ringan, lucu, fun, dan sambil lalu lebih tepat kalau kita manfaat positifkan Facebook. Untuk tetap ter-update dengan berita dan info singkat yang real-time, Twitter akan bermanfaat sekali. Sementara untuk menulis dan eksplorasi berbagai ide seluas-luasnya, menurut saya amat efektif disalurkan lewat blogging. Facebook punya fitur ‘Notes‘ buat kita menulis, tapi trend tema tulisan yang cenderung ‘diterima pasar’-nya ngga jauh dari trend Facebook itu sendiri; ringan lucu fun dan dinamis. Sementara tulisan yang mulai serius dan kontroversial? Lebih baik hindari kalau anda belum siap didepak ‘teman Facebook’ anda secara perlahan tapi pasti, hehe..😉

 

 

 

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s