Februari Spesial: H-4

Hohoo..it’s getting closer! Walau ngga tepat waktu – sebetulnya jatuh 3 hari lalu,Kutipan Cinta H-4 saya pilih 3 kutipan, karena bertema sama, ‘true love’, dan terlalu indah untuk dipilih hanya satu🙂

“True love is a hard nut to crack, but it has the sweetest kernel.” (Spanish Proverb)

“True love stories never have endings.” (Richard Bach)

“Love seems the swiftest, but it is the slowest of all growths.
No man or woman really knows what perfect love is until they have been married a quarter of a century.”
(Author unknown)

Buah renungan:

‘Cinta’, hal yang kadang tidak bisa kita pahami. Apalagi, ‘cinta sesungguhnya’. Sejujurnya, saya tidak berani bahkan tidak tahu apakah sudah pantas mengklaim bahwa kami sudah pada tahap ‘cinta sesungguhnya’. Kami bersama hingga saat ini, ya betul. Kami bertemu saat masing-masing tak punya apapun selain diri, hati, pikiran waras, dan keluarga besar, itu adalah fakta. Kami saling menginginkan dan menyayangi, tentu. Kami saling membutuhkan satu sama lain, tak ragu.

Kami saling menghargai dan menghormati pikiran dan perasaan, tepat sekali. Kami saling menjaga kehormatan dan kesetiaan diri masing-masing demi komitmen yang dibangun bersama, tak ragu lagi. Kami sempat berusaha ingin menambah anggota keluarga-anak, betul sekali. Kami bercita-cita dan komitmen untuk menghabiskan sisa hidup berdua hingga akhir hayat, tak ada keraguan. Kami saling memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan harian demi hubungan yang lebih baik dan membahagiakan, sudah dan terus terbukti. Kami saling mendukung dan berusaha membahagiakan satu sama lain, bukan omong kosong.

Kami ngga tahan berlama-lama terpisah, bukan karangan. Kami ingin berkesempatan melakukan kegiatan sosial kemanusiaan bersama, sudah masuk dalam list. Jika itu semua bermakna atau masuk kategori ‘cinta’, bahkan ‘cinta sesungguhnya’, saya hanya bisa berharap semoga itu berarti sesuatu yang baik dan positif. Jika itu sama sekali bukan ‘cinta’, apalagi ‘cinta sesungguhnya, saya percaya bukan masalah sama sekali, karena semua yang kami alami diatas itu sudah sangat bikin bahagia dan bersyukur atas kebersamaan ini. What could be better than that!

Saya melihat terlalu awal atau bahkan terlalu sederhana untuk mengaitkan cerita kami dengan semua kutipan tersebut. Tapi, kutipan pertama sedikit mengingatkan saya akan kisah awal hubungan kami. Saat kenal lewat online dating (Datehookup.com) kami terpisah lautan luas, JP berdomisili di Cina dan saya di Indonesia.

Ritme kerja JP relatif stabil sebagai pengajar. Sementara saya jauh dari stabil, bahkan cenderung tak normal. Saat itu saya terikat kontrak kerja temporer untuk pemilihan gubernur dimana saya tinggal. Kerja kampanye politik macam itu bikin ritme hidup amburadul. Malam jadi siang, siang jadi malam. Pergi pagi, pulang malam, tak jarang berakhir dini hari. Satu meeting ke meeting panjang berikutnya. Walau hanya jalani fungsi remeh temeh, tapi sebagai bagian dari sistem tetap saya punya porsi tanggung jawab sendiri, apalagi terkait fungsi keadministrasian dan keuangan.

Kondisi itu praktis menyumbang tantangan luar biasa bagi kami yang sedang merintis dan membina hubungan khusus. Itu semua mempengaruhi kualitas maupun kuantitas komunikasi kami. Media terbaik kami saat itu adalah email dan sms. Masa-masa itulah label ‘perempuan malam’ tak saya khawatirkan lagi – maklum lingkungan mayoritas kita masih melihat perempuan pulang malam sendirian sebagai hal kurang baik.

Saat orang mulai berangkat tidur, saya baru pulang kerja dan langsung ke internet cafe untuk chatting dengan JP. Tengah malam atau lewat dari itu barulah selesai. Ia pun harus tidur lebih larut karena waktu Cina lebih dahulu 1 jam dibanding WIB. Bersyukur, hampir tiap kali chat itu dua keponakan lelaki saya yang sudah remaja selalu penuh inisiatif menjemput, tanpa diminta, sesekali mungkin diminta oleh abang tertua saya. I love them all! Can’t thank them enough for those difficult times..

Kenal dan membina hubungan lewat internet. Kenal muka hanya lewat foto-foto. Kenal suara hanya lewat voice chat, telepon, dan lagu-lagu yang ia ciptakan dan nyanyikan sendiri. Kenal jiwa dan kepribadian masing-masing lewat email dan lainnya.

Praktis membina hubungan saat itu amat penuh tantangan. Kadang, semangat turun dibarengi munculnya berbagai keraguan karena kendala teknis disana sini. Tapi, bersyukurnya selalu cepat berkobar lagi. Karena spirit, chemistry, serta potensi kecocokan prinsip (kepibadian dan visi hidup) yang ada jauh lebih besar daripada tantangan dan kendala yang muncul.

Alhasil, satu titik saya sempat melihat ‘cinta’ bahkan ‘cinta sesungguhnya’ lah yang menyatukan kami. Walau seiring waktu, peristiwa, dan pengetahuan, saya menyadari..meyakini bahwa cinta tidak sesederhana yang saya kira dulu. Cinta butuh waktu dan peristiwa yang luar biasa sebagai penguji. 5 tahun perkawinan jelas bukan apa-apa. Saya pernah dengar kata orang, 5 tahun perkawinan adalah titik kritis pertama dalam perkawinan, 10 tahun titik kritis berikutnya dimana ujian besar biasanya mulai muncul. Nah, kutipan terakhir diatas justru menyebut 25 tahun perkawinan-lah sebagai pengukur untuk melihat apakah ‘cinta sesungguhnya’ itu.

Ya..kiranya kutipan kedua dan ketiga bisa jadi amat benar! 2 hal yang saya tarik sebagai benang merah untuk melihat dan memahami apa itu ‘cinta sesungguhnya’ adalah; waktu dan peristiwa. Semoga kami berkesempatan mencapai titik itu.

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s