Cerita Buku, Perpustakaan, Dan Saya

Saya cinta buku dan amat menikmati petualangan dan sensasi dalam membaca buku. Walau gitu saya masih jauh dari term ‘kutu buku’, kalau ukuran kecintaan buku diukur dari jumlah buku yang dibaca dan intensitas hidup bersama buku-buku.

Saya mulai hobi nongkrong diperpustakaan sejak tingkat SD. Waktu itu hobi pinjam buku perpustakaan mini sekolah yang tak beruang-baca saat itu. Kalau ada kelebihan uang saku saya beli komik, buku cerita, majalah, atau buku yang terjangkau. Koleksinya dikumpul sampai bisa buka lapak sewa buku (temporer dan on-off) didepan rumah.

Masih segar dalam ingatan kala akhir pekan atau musim liburan, pagi setelah mandi, hati berbunga-bunga rasanya tiap kali ada kesempatan untuk uplek sendiri pindahkan meja teh ke bengkel kerja bapak saya (alm), susun koleksi ‘buku’, lalu duduk baca sambil nunggu pengunjung. Lol. Ngga banyak pengunjung—yang selalu teman-teman main dan sepupu saya sendiri. Tapi entah kenapa ngga menguapkan semangat buka lapak sewa buku😀 Saya merasa ‘hebat’ saat itu karena bisa sediakan semeja sumber bacaan buat orang, plus sensasi nambah uang saku dari hasil menyewakan buku.

Jaman SMP, mulai rajin nongkrong di perpustakaan sekolah karena ada ruang bacanya. Juga, nongkrong di perpustakaan wilayah kabupaten—dulu di dekat pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Saat itu saya dan keluarga masih tinggal di Pondok Pinang.

Hobi ke perpus Mayestik itu berlanjut hingga tingkat SMA. Level SMA saya mulai kenal The British Council (Huge thanks to my dear older sister, Fz, for introducing me to TBC library! Something I did as well to my niece—Frc, in return). Sejak kuliah tempat nongkrong saya praktis pindah ke TBC selain perpustakaan kampus, karena mulai butuh literatur berbahasa Inggris. Kadang juga ke perpustakaan CSIS di jalan Tanah Abang II, dan perpustakaan FISIP UI untuk keperluan skripsi, materi kuliah, atau sekedar menenangkan pikiran.

Waktu berkunjung ke Timmins—kota kecil kelahiran suami saya di Kanada, saya berkesempatan kunjungi perpustakaan kota itu. Perpustakaan diluar tanah air yang pertama saya kunjungi. Ngga besar tapi ternyaman, terbersih dan ter-rapi dari perpustakaan yang pernah saya kunjungi. Ia punya ambiance, sirkulasi udara, paparan sinar matahari, dan fasilitas multimedia yang bikin kegiatan baca dan riset lebih menyenangkan. Dihidupi dengan pengunjung yang cukup. Ada mesin peminjam dan pengembali buku di dinding sisi luar gedung. Mesin itu berguna bagi anggota saat perlu pinjam/kembalikan buku di hari libur. Petugasnya amat membantu dan ‘tune in’, bukan petugas perpustakaan yang sekedar ada disitu untuk tugas administratif dan birokratif semata. Sayangnya kami tak sampai 2 minggu menikmati kota yang amat tenang itu.

Hidup di Cina, awalnya di provinsi Heilongjiangyang berdekatan dengan Rusia, di sebuah kota bernama Daqing. Sebagai kotamuda berumur baru 60-an tahun, Daqing tak banyak punya tempat budaya dan pendidikan selain sekolah TK-Universitas. Perpustakaan? Kecuali perpustakaan kampus belum saya dengar perpustakaan kota. Atau mungkin saya ngga cukup mencari saja. Awal hidup disana penuh masa penyesuaian dengan kultur umum negeri berpartai tunggal komunis ini. Banyak kendala dan kondisi yang bikin masa tinggal dihiasi stress sana sini. Terutama kendala bahasa dan ketersediaan berbagai hal. Rupanya hidup 30 tahun di ibukota Jakartasudah cukup bikin saya terbiasa oleh serba kemudahan saat butuh dan cari sesuatu. Tanpa kendala bahasa pula! :p

Setelah beberapa tahun di utara, kini kami tinggal di wilayah tengah negeri bambu—walau di Indonesia ngga kurang pohon bambu tapi kenapa ngga pernah disebut negeri bambu, yah?😉 Kota Xi’an yang jadi ibukota provinsi Shaanxi ini sekaligus dikenal sebagai kota pendidikan dan kedokteran-nya Cina. Lebih jauh kota ini termasuk kota budaya dan peradaban Cina, karena ngga cuma pernah jadi ibukota Cina (sebelum Beijing dan beberapa kota lainnya), tapi juga ada ribuan simbol peradaban dan peninggalan sejarah masyarakat Cina bahkan dunia terjadi dan tertinggal disini. Sebut saja beberapa;

  1. Tembok kota Xi’an—satu-satunya tembok kotacina yang masih utuh lengkap dan terawat amat baik.
  2. Titik awal ekspedisi Jalur Sutera—sbg fondasi awal perdagangan antara wilayah timur dan barat bumi, hingga akhirnya dunia. (lihat video titik awal jalur sutera yang terletak di wilayah barat kota Xi’an)
  3. Musolium Patung (Ribuan) Tentara Dan Kuda Tanah Liat yang dibuat untuk mengawal jasad kaisar Qin Shi Huang. Musolium ini sempat terkubur ratusan tahun.
  4. Berbagai museum, kuil Buddha dan konghucu kuno.
  5. Masjid Raya terbesar dan tertua di provinsi ini.
  6. Drum tower dan Bell tower.
  7. Dan banyak lagi.

Balik ke perpustakaan, dengan perjalanan panjang peradaban kota ini kehadiran sebuah perpustakaan umum tentu sebuah keniscayaan. Sejak awal rencana kepindahan ke sini kami berdua sudah amat semangat dan antusias, tahu bahwa akan makin besar peluang eksplorasi dan menikmati the pitkanens journey. Daqing sudah kasih kami titik awal luar biasa memulai hidup di Cina. Jelas kami akan kembali kesana satu saat nanti untuk melepas kangen pada makanan dan teman-teman yang masih tinggal disana. Sementara, Xi’an jadi langkah berikut perjalanan kami. Kedua kota jelas sudah dan akan lebih memperkaya pengalaman hidup, serta membantu kami lebih berbudaya sebagai manusia.

Lebih jauh bagi saya, kehadiran perpustakaan umum di Xi’an akan bikin china living jauh lebih mengisi. Karena dahaga jiwa berpotensi terisi disana. Dimana tersedia lautan buku berbahasa yang saya kenal, sedikitnya Inggris jika tidak bahasa utama saya. Mulai kemarin (14 April 2012) perjalanan Xi’an saya pun jelas makin terasa bernilai.

Buat anda pecinta buku yang belum merasakan hidup di Cina mungkin akan sedikit sulit mengerti kenapa tidak saya beli saja buku sendiri. Bisa saya kasih gambaran sedikit; kalau tidak tinggal di kota metropolitan besar seperti Shanghai dan Beijing, amat amat amat sulit cari buku asing minimal berbahasa Inggris. Beli online tentu mudah, tapi anda harus punya kartu kredit, atau kartu bank khusus untuk transaksi online. Kalau anda punya kartu transaksi online lokal misalnya, ngga bisa dipakai untuk belanja di situs internasional seperti amazon tentunya.

Di situs lokal? Saya belum temukan buku asing, bahkan e-bay lokal yang berafiliasi ke jaringan hongkong. Surpised! Kartu kredit? Hmm, kami berdua memutuskan untuk ngga bersentuhan dengan kartu kredit lagi sejak menikah. Belum lagi fakta bahwa kondisi nomaden kami jelas merepotkan untuk punya banyak buku sendiri. Saya punya pilihan lebih baik untuk buang-buang uang ketimbang hanya untuk beli buku tapi ngga bisa jadi koleksi pribadi pada akhirnya saat harus kembali ke tanah air! (biaya kirim mahal lho! lol)

Bagaimana pengalaman anda dengan kecintaan pada buku dan perpustakaan? Apa anda juga punya perpustakaan favorit tempat nongkrong rutin dan berenang dengan buku? Perpustakaan diluar tanah air yang pertama anda kunjungi? Apa perbedaan mencolok perpustakaan favorit anda dengan perpustakaan di tanah air?

2 thoughts on “Cerita Buku, Perpustakaan, Dan Saya

    1. Yg saya ingat ada. Ada mikrolet biru telor asin yg lewat ujung jalan tanah abang II itu, turun di ujung jalan itu lalu jalan kaki hanya kira2 100-150 an meter.. Mikrolet itu biasanya saya naik dari perempatan Jl Kebon Sirih (samping Bank Indonesia) – Jl Fachruddin/Jl Abdul Muis.

      Saya dulu betah berlama2 disana krn nyaman dan tenang, koleksi arsip korannya jg lengkap, ada minum gratis pula, hehe.. mahasiswa seneng kan kalo gratis2.

      Mgkn lbh baik cari tahu dulu online apa perpus CSIS itu msh eksis, krn cukup lama sy dengar rumor mrk sdh ngga eksis lg. Belum cek kebenarannnya..🙂 Good luck!

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s