“Saya Mandul. Alhamdulilah!”

Saya teringat salah satu kejadian ‘ngga biasa’ yang menimpa keluarga guru ngaji saya waktu kecil. Selama masa pertumbuhan orangtua saya selalu memanggil guru ngaji khusus untuk kesepuluh anaknya. Sejak saya kecil hingga ayah meninggal, kami sudah bergonta-ganti belasan guru. Salah satunya adalah ustadz M.

Sebelum berguru pada ustadz M ini, saya sudah sering dengar dirinya jadi bahan obrolan seru diantara kawan-kawan sekolah MI—setingkat SD. Sebagian besar mereka berguru ke beliau diluar jam sekolah. Mereka selalu bilang ustadz M galak dan ‘setreng’ (baca: keras dan disiplin). Saat ngajar dirumahnya ia selalu sedia tongkat kayu panjang untuk mendisiplinkan siswa-siswi kecilnya. Menurut mereka, tak jarang ia memukul sungguhan anak yang nakal dengan tongkat itu. Lepas dari pro-kontra soal kekerasannya itu saya tahu banyak murid beliau yang pandai dalam pelajaran agama bahkan bisa mengaji indah dan jadi Qori(ah).

Satu waktu, kami dengar berita yang bikin ternganga tak percaya! Salah satu putera beliau meninggal di bunuh orang. Saya dengar dari banyak orang dan keluarga, tubuh sang anak babak belur, terpotong, tertusuk secara mengerikan. Lepas dari berbagai rumor yang berkembang tentang sosok si anak dan penyebab kematiannya, ada hal menarik yang saya dengar dari teman-teman sekolah saya saat itu. Mereka ribut dan mencemooh pernyataan ustadz M saat menyaksikan jasad puteranya. Ketimbang menangis, mengecam, mengamuk, beliau mengucap “Alhamdulillah (*)..” selain tentunya, “Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun (**)” yang biasa diucap saat menghadapi kematian.

Hal itu dianggap aneh oleh umumnya masyarakat karena istilah ‘Alhamdulillah’ biasanya hanya diucap saat kita merasa bersyukur atas hal yang dianggap ‘positif’; kenikmatan, kesenangan, keberuntungan, keselamatan, keberhasilan, dan sebagainya. Bukannya untuk musibah apalagi musibah memilukan seperti itu.

Saya ngga dapat ingat kapan dan siapa persisnya, tapi di satu waktu akhirnya saya dapat ‘pencerahan’ saat bertanya soal ini ke seseorang. Samar-samar saya ingat orang yang saya tanya tercenung sejenak, lalu menjawab kira-kira seperti ini, “Ustadz M ngga salah juga. Alhamdulilah kan artinya ‘segala puji bagi Allah’…tiap sesuatu yang terjadi ada hikmah dan kebaikan yang bisa kita ambil. Hikmah dan kebaikan itu ngga selalu mudah dilihat dan disyukuri. Karena itu pengalaman enak atau tidak sebaiknya kita berbaik sangka dengan tetap memuji sang Kuasa. Hal yang terasa nyakitin, malu-maluin, dan terasa ngga adil, boleh jadi adalah terbaik dari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi”.

Kini puluhan tahun kemudian, saya dihadapi kenyataan kalau saya mandul. Kemandulan adalah hal yang sulit diterima oleh pasangan yang ingin ber-anak. Sejak masa perkenalan dulu, kami berdua sudah berbagi visi dan perspektif tentang prinsip dan nilai hidup yang kami peluk erat. Tak jarang, visi dan perspektif kami ngga populer bahkan melawan arus. Termasuk isu seputar kehadiran anak dalam rumah tangga. Kami berdua percaya tujuan utama ber-pasangan hidup bukanlah produksi anak. Juga, kebahagiaan mendasar rumah tangga bukan bersandar pada kehadiran anak biologis, tapi pada bagaimana memaknai hubungan yang dijalin. Seberapa besar masing-masing membutuhkan pasangannya untuk arungi dan nikmati hidup bersama—dengan atau tanpa kehadiran anak.

Tapi, sekalipun kami berdua sudah memeluk erat kepercayaan seperti itu faktanya kemandulan tetap tak mudah dihadapi dalam keseharian. Apalagi saat kami berdua merasa bahwa kami mampu jadi model yang baik dan orangtua yang hebat (bukan ‘sempurna’ lho!) bagi anak-anak kami😀

Dua tahun pertama pernikahan, kami sengaja menunda konsepsi. Saya tak ada alasan untuk menunda, tapi suami saya berasal dari orang-tua yang bercerai sejak ia balita. Ia mengaku, perceraian orangtuanya sudah amat melukai dan merusak masa pertumbuhannya sebagai anak. Walau begitu, ia ngga pernah mengakui kalau penundaan dilakukan karena ia menghindari hal yang sama terjadi dalam perkawinannya. Awalnya saya sempat tersinggung karena merasa ia meragukan potensi keberhasilan perkawinan kami, namun secara logis saya bisa terima penuh keinginan dia menunda.

Ditahun ketiga, kami mulai proses konsepsi. Namun setelah 3 tahun mencoba plus berobat semampu kami—kami berdua ada masalah reproduksi, akhirnya kami sampai disatu titik bahwa anak tidak akan jadi prioritas utama lagi. Atas banyak alasan logis dan riil–yang bisa dibaca disini, kami memutuskan untuk menikmati keberduaan kami serta fokus pada pemenuhan target, tujuan, dan impian baik sebagai individu maupun pasangan.

Bagi saya pribadi, proses internalisasi kenyataan bahwa kami mandul ngga selalu mudah dihadapi. Tahun kelima perkawinan jadi masa terberat saya dalam menghayati dan menerima penuh kemandulan. Tapi, saya sering ingat perkataan mantan kolega senior saya, “Saat kita ada dititik terendah jurang kegagalan, hanya ada satu jalan, yaitu naik keatas lagi”.

Kini, kami ada di tahun ke-6 perkawinan, masa-masa terberat saya—terutama karena level kemandulan saya lebih besar dari suami—sudah terlewati. Perasaan ‘tak terima’ masih muncul, tapi amat jarang dan terasa amat ringan dihadapi. Aneh juga, selama proses ‘penerimaan kenyataan’ itu banyak sekali sisi kenikmatan yang mampu saya lihat dari kondisi ‘tak beranak’. Saya ngga tahu apa ini terdengar mengada-ada atau terdengar seperti ‘justifikasi’, tapi seringkali terjadi saat saya melihat satu kejadian atau potret kehidupan terkait anak dan dunia anak, justru terpampang hal lain yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Hal lain yang saya rasakan mencerahkan, bahkan menambah perspektif baru tentang kehadiran atau ketidakhadiran anak biologis.

Hasilnya, saya melihat kehadiran dan ketidakhadiran anak biologis dalam sebuah perkawinan sebagai hal yang sama-sama memberi kenikmatan. Potret keluarga yang ber-anak biologis selancar main ski es serta potret keluarga yang sulit bahkan tak mungkin ber-anak biologis, akhirnya terlihat sama-sama acceptable dan menggairahkan dimata saya. Anda mungkin berpikir, “Ya sudah mustinya demikian!”😀 Tapi saya percaya, tanpa bermaksud merendahkan kemampuan empati anda, bagi yang ngga pernah ngalami sulitnya ber-anak mungkin lebih sulit nangkap dan mahami apa yang saya maksud.

Akhirnya, kami tidak ber-kontrasepsi, tapi juga tak pusing dengan program apa-apa seputar kehamilan. Kami serahkan pada kuasa alam. Ambisi untuk hadirnya anak ber-metamorfosis jadi semangat dan gairah untuk mewujudkan impian-impian jangka pendek maupun panjang kami. Impian individu maupun impian kami sebagai pasangan.

Jangka panjang, saat target pencapaian riil kami terwujud, kemungkinan untuk mengadopsi anak selalu terbuka. Bukan untuk hasrat dan ego menjadi ‘orangtua’ tapi lebih ke motif berbagi keberuntungan dan kasih sayang pada anak yang terbuang dan berhak memiliki sebuah keluarga.

Dibalik kemandulan saya, kita tidak pernah tahu hikmah dan kebaikan apa yang sedang dan akan muncul. Baik untuk kami berdua maupun orang-orang diseputar kami. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Baik disadari maupun tidak. Atas dasar itu semua, kini saya merasa mengerti penuh makna dibalik respon ‘aneh’ guru ngaji saya dulu.

Kini, dengan sadar disertai hati dan pikiran yang tersenyum saya mampu bilang ke diri sendiri, “Alhamdulilah, saya mandul! Semoga makin banyak kebaikan yang saya dan suami rasakan dari kemandulan ini”.. 

Anda punya pengalaman seputar kemandulan? Bagaimana anda dan suami mengatasi kondisi kemandulan yang ada? Saya rasakan, berbagi sering jadi obat dan suntikan energi yang luar biasa bagi yang berbagi dan yang dibagi🙂  Cerita pengalaman anda akan saya sambut dengan senang hati!

Keterangan:

(*) Alhamdulilah: Segala puji bagi Allah. (**) Innalilah wainna ilaih rojiun: Sesungguhnya semua milik Allah dan kepada Allah lah akan kembali.

2 thoughts on ““Saya Mandul. Alhamdulilah!”

    1. Hello. Makasih sdh mampir dan berbagi info😀 Hanya baik suami dan saya tidak mengenal istilah nikah mut’ah atau jalan semacamnya. Selain kami berdua tidak percaya tujuan utama hidup itu untuk seks dan berlomba-lomba ber-reproduksi, kami jg melihat kalau ‘kebutuhan’ memiliki anak adalah hasil ciptaan dan pengkondisian sosial selama ribuan tahun manusia eksis di bumi.

      Kondisi kami berdua sangat bisa di atasi secara medis, kami bisa mengusahakan itu, tapi kami pilih untuk tidak memaksakan kondisi hanya sekedar untuk memiliki keturunan biologis.

      Konsep kami untuk bahagia untungnya sama2 melewati batas ‘harus ada anak biologis’, harus meninggalkan keturunan, harus ini itu lainnya yang hasil bentukan masyarakat. Ada anak bisa bawa kebaikan, ngga ada anak juga sama membawa kebaikan. Kami sudah merasa cukup dan puas dengan keluarga kecil dan bahagia kami (kami berdua plus anjing husky kami)..🙂

      Jika kemudian hari ada dana berlebih kami ingin memberi makna lebih pada hidup kami dgn cara menambah makna hidup bbrp anak2 terbuang yg justru sangat butuh uluran hati, pikiran, dan ruang dari pasangan2 tidak beranak biologis (semoga waktu dan kondisi mendukung niat kami!). Itu kami rasa lebih penting dan layak untuk diperjuangkan ketimbang memeras energi dan biaya hanya ‘sekedar’ untuk memiliki keturunan biologis.

      Think bigger, think deeper, think more essential. Itu buat kami, tentu tiap orang punya pandangan, keyakinan, dan obsesi tersendiri untuk mencapai kebahagiaan hidup masing2. Yang jelas buat kami, ada tidak adanya anak biologis atau kepuasan seks sama sekali bukan alasan utk satu pasangan/keluarga jadi hancur, hampa, tidak bahagia, tidak puas dsj. Mungkin kami beruntung krn dipertemukan satu sama lain dgn kesamaan visi. Salam pembebasan!🙂

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s