Segelas teh susu dari hati…

051220126413

Pagi tadi saya mulai hari dengan beberapa agenda; bayar listrik di kantor pengelola gedung apartemen – yang cuma di luar lantai dasar gedung, jemput sosis pesanan di tempat teman, dan ke big goose pagoda di jalan yanta selatan (Yanta Nan Lu) untuk jemput celana-celana panjang cantik incaran saya plus beberapa urusan lain.

Saat berpakaian hubby nawari teh susu kemasan favorit kami. Awalnya mau nolak karena merasa dia ngga perlu layani urusan minum saya, tapi sejenak saya ingat kalo dia ngga suka dorong-dorongan saat nawarin sesuatu. Tau kan dorong-dorongan a la orang asia, yang nawarin sama yang di tawarin sama-sama ngotot, hahaha.. If he offers something he means it. Bukan basa-basi. Akhirnya, “Sure if you’re making it now…thanks!”

Saya dengar dia bilang “Teh susu kamu saya bubuhi kayumanis sedikit!” Ugh..walau ngga dijelasin lagi saya tahu itu penghangat di badan supaya saya ngga masuk angin – padahal dia tahu kalo saya ngga terlalu nge-fans sama kayumanis. Gitu kelar pakaian, saya langsung ke dapur, trus minum teh susu yang ada di konter dapur. Karena dia sedang di toilet saya putusin turun kebawah duluan untuk mulai proses bayar listrik dan iuran gedung. Sementara saya minta dia nyusul ke bawah untuk ambil kartu listriknya supaya bisa langsung di charge ke apartemen kami – listrik disini pra-bayar, kita beli kartu semacam ATM, trus isi ulang kapan saja kita butuh.

“Don’t forget your milk tea though..” sahutnya dari toilet.

Saya terburu-buru, “Yep, done. I drank it already!”.

“Which one?”

“What do you mean? The one in the kitchen..”

“Oh nooo..” Kepalanya nyembul keluar pintu toilet duluan, senyum lebar, dan sambil melangkah keluar, “that’s mine..yours is just behind you now – on the shoe rack”.

Aaahhh! Pantesan rasanya aneh…kesukaan dia yang ungu (mungbean), saya yang orange (original). Dia nyengir sendiri sambil bilang, “That’s okay, good you ‘like’ it…” disertai ekspresi ngejek karena tahu saya ngga suka rasa mungbean itu. Kita janjian ketemu di bawah.

Begitu kelar bayar  listrik dan lagi proses bayar iuran gedung, dia sampai. Bawa segelas gelas kertas. Saya pamitan..kissy kiss..trus dia kasih teh susu-nya ke saya, katanya “This is yours! bring it with you..”. Walaaah..suami yang manis! Ngga pingin nolak ketulusan dan usaha dia bikin saya nyaman di jalan – walau saya sendiri ngga gitu suka bawa minuman panas ditangan saat jalan, akhirnya saya ambil deh.

Sambil jalan, hati tersentuh. Gimana saya ngga beruntung, gimana saya ngga harus putus bersyukur; secara fisik saya amat biasa aja, suami secara lahir dan batin amat menyenangkan dan menenangkan, disini saya ngga produktif secara finansial, dia cari nafkah sendiri, 6 tahun nikah kami ngga ada anak, sabar dan pengertiannya ngga habis-habis, ngga banyak nuntut, dan sebagainya… eh masih aja dia mikirin gimana caranya supaya saya nyaman di jalan!🙂

Terlintas sejenak di pikiran, “kalau saya nikahin lelaki sebangsa, apa akan seberuntung ini?”.. Wallahualam, yang jelas saya harus ngga putus bersyukur. The more I know him the more I feel blessed…

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s