Menulis dan kesunyian

Posting barusan sebelum ini jadi posting ke 97 di blog ini. Ngga seberapanya para bloger sejati yang bertebaran di antero dunia maya, tapi buat saya yang masih payah jaga konsistensi menulis dan nge-blog itu termasuk lumayan produktif, hehe..

Seperti biasa di wordpress tiap habis posting kita dapat pemberitahuan macam di foto berikut ini, plus kutipan terkenal dan inspiratif seputar dunia menulis. Kali ini kutipannya berbunyi, “writing is struggle against silence” oleh Carlos Fuentes. Saya belum tahu lebih dari namanya siapa itu pak Fuentes, tapi apa yang ia bilang tersebut saya lebih dari setuju.

97th post

Walau belum (untuk ngga bilang ‘tidak’) super produktif dalam menulis, tapi saya selalu merasa menulis adalah dunia saya. Saya merasa sangat ‘at home’ saat menulis. Merasa bebas, lepas tanpa ada beban kalau tulisan saya di baca atau tidak. Saya hanya pingin menulis, numpahin apa yang saya ingin bagi lewat tulisan. Mau hal itu di anggap penting atau sepele/tulisan sampah oleh pembaca, bukan lagi soal buat saya, paling tidak untuk saat ini target saya adalah ngebangun konsistensi dulu – yang masih jadi problem besar saya.

Saya ngga tau gimana nge-jelasin fenomena ‘ada kesunyian dalam kehingar-bingaran dan hiruk pikuk manusia’. Tapi saya tau saya ngga jarang ngerasain hal itu. Ngga tahu apa kata kamus besar bahasa Indonesia, tapi buat saya kesunyian dan kesepian beda. Kita bisa merasa kesepian dalam keramaian, tapi kita ngga bisa merasa kesunyian dalam keramaian.

Bicara kesunyian, dalam kehidupan sehari-hari cukup sering saya pingin bicara dan berbagi, tentang banyak hal. Tapi segala perangkat kehingar-bingaran dan keriuhan interaksi yang super beragam dewasa ini (facebook, twitter, chat-room, dsj, dsb) saya rasakan seringkali sunyi dalam keriuhannya. Orang saling bertukar kata dan bersuara, tapi kurang saya temukan esensi yang mengisi dan melepas dahaga jiwa. Terasa ada yang kurang dan kosong dari sana…

Dalam kesunyian macam itu seringkali saya memilih untuk diam, mencerna, mencari damai dalam sunyi sejenak, dan menumpahkannya hanya lewat tulisan yang lebih layak seperti blog, dan (mudah-mudahan bisa segera di mulai) lewat buku. Konteks itu, menulis saya rasakan jadi media terbaik dan ternyaman untuk entah menjawab-mencari akar-atau bahkan sekedar membagi/menuangkan berbagai pergulatan jiwa dalam sunyi demi melepas lelah jiwa dan pikiran.

Itulah yang kira-kira saya rasakan saat lihat kutipan kata-kata mister Fuentes🙂

Gimana dengan anda sendiri, punya pengalaman dan perasaan khusus seputar kegiatan menulis anda?

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s