Cerita ulang tahun

Awal November ini saya berulang-tahun. Ngga ada kue ulang tahun, ngga ada kado, ngga ada bunga, serta tradisi umum atau hal romantis lain selain suami saya mainkan lagu/video ulang tahun di lapotop-nya saat jam menunjukkan 12 malam lewat beberapa detik – saat itu kami  masih nongkrong di depan komputer masing-masing. Seharian itu saya juga harus urus beberapa keperluan, suami juga harus kerja. Sore saya belanja dan masak masakan favorit kami berdua. Ngga banyak melimpah, ngga mahal-mahal, tapi kami cukup nyaman, senang, dan merasa tenang. Ultah suami saya di bulan sebelumnya juga demikian.

Karena sikon dan beberapa hal, ultah tahun ini hampir ngga ada beda dengan hari-hari lain. Ada banyak perspektif dan tradisi dalam melihat peringatan hari kelahiran, tentu. Kami sendiri memang biasanya lebih menikmati peringatan ultah secara prifat – tanpa acara mengundang atau bersama keluarga/teman dekat. Paling-paling makan malam/siang spesial berdua keluar, agak mahal dari biasanya karena itu momen spesial, kasih kado atau surprise kecil, terkadang juga yang ultah dapat bonus/perhatian istimewa tertentu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, haha… Ngga selalu ada bunga tiap ultah, tapi kadang-kadang kami lakukan.

BACKGROUND SEPUTAR ULTAH

 

Suami saya suka pesta dan cukup konsumtif di masa mudanya, tapi makin kesini, terutama sejak ia memutuskan bikin perubahan besar dalam hidupnya (dengan nyantri di kuil Buddha), ia pun lebih banyak mempraktekkan nilai-nilai kesederhanaan dan esensial dalam keseharian. Namun semua dilakukan secara moderat, segalanya kalo berlebihan kan katanya kurang baik ya..😉

Perspektif dan prakteknya dia setelah dewasa tentang ultah klop dengan saya yang ngga punya tradisi perayaan ultah di keluarga. Saya datang dari keluarga besar dengan 9 saudara kandung. Orangtua saya mengasuh dan merawat 10 anak dalam kondisi ekonomi serba kesulitan. Dengan kondisi tersebut prioritas orang tua saya adalah pendidikan. Selain makan harian, biaya sekolah jadi fokus perhatian ketimbang hal sekunder atau tersier saat itu. Jadi praktis dalam tradisi keluarga kami saat itu ngga ada; perayaan ultah, saling kasih kado, piknik keluarga, hadiah kenaikan kelas, atau lain sejenisnya. Cukup bagus saat kenaikan kelas kami dapat pujian karena nilai yang diraih, atau senyum lebar bapak saya yang memang bukan tipe verbal (ngga banyak bicara).

Setelah sebagian besar anak-anaknya dewasa dan satu-persatu lepas dari tanggung-jawab orang-tua barulah ibu-bapak saya membaik kondisi ekonominya..bukan karena bantuan dari anak-anaknya, tapi karena olah properti yang mereka dapat/miliki dari orangtua masing-masing mulai berbuah hasil. Sejak itulah kami mulailah sedikit kasih perhatian ke tradisi ulang tahun. Mulai ada tradisi ‘selamatan’ sekeluarga inti saja saat ada yang ultah, biasanya bikin nasi kuning, masak spesial, dan kumpul makan bareng disertai doa. Tapi itupun ngga dilakukan di tiap ultah anggota keluarga, apalagi tiap tahun. Tergantung banyak hal, biasanya karena entah yang ultah me-request, atau salah satu anggota keluarga ngingatin sambil ngeledekdoesn’t really matter, yang jelas sudah mulai tumbuh tradisi ‘memberi ekstra perhatian’ ke peringatan ulang tahun.

Tapi tetap, dampaknya ke saya, saudara kandung, dan ibu (bapak sudah almarhum) kami adalah kami masih sering oneng soal tanggal ultah saudara kandung dan ibu/bapak kami. Ngga bertepuk sebelah tangan juga sih, karena beliau berdua juga ngga pernah ingat ultah salah satu dari kami, hahaha.. Saya sendiri, ngga terlalu ingat ultah semua saudara kandung. Beberapa saja yang saya selalu ingat bulannya, tanggal pun sering tertukar atau lupa total. Ultah Ibu bapak saya sendiri pun saya sering lupa tanggal persisnya. Mungkin karena ngga ada ‘pressure‘ untuk mengingat juga sih, mau ingat atau ngga juga ngga ngefek ke apapun.. Aneh ya? Tapi nyata nih..😀

Bahkan lebih jauh, bagi saya pribadi, saya jadi ngga nyaman dan malu saat jadi pusat perhatian. Saya lebih nyaman bercampur jadi pendukung dan peramai acara saja. Ngga keberatan hadir ke pesta/makan bersama untuk ultah orang lain, tapi sulit membayangkan saya undang orang lain untuk datang ke acara ultah saya. There’s nothing wrong about it, it’s just I am not used to be ‘the person of the event’, and I feel quite shy for such things.

SIMPLICITY

Balik ke ultah saya yang baru lewat..di usia 36 tahun ini saya menyadari ‘simplicity’ jadi tema buat bukan hanya ultah kemarin tapi juga buat sisa hidup saya kedepan yang entah masih ada berapa lama lagi. Suami saya lebih kuat kultur ‘effort oriented’ nya soal usia, makanya dia bisa bilang, “Saya ‘akan’ hidup sampai maksimum 100 tahun. Saya bisa handle hidup setua itu..saya pingin lihat perubahan dunia di saat itu..”, makanya lagi dia jauh lebih tekun cari bacaan dan riset soal kesehatan, hidup sehat, diet sehat dan menyehatkan, termasuk pelajari berbagai kandungan dari makanan yang kita asup sehari-hari. Saya sendiri gimana??? Walau banyak tercerahkan disana sini soal beragam hal, kalo soal usia masih cukup kental orientasi ke-Indonesiaannya, ‘umur kita ngga pernah tahu dan pastikan!’, sedikit bergeser dari kecederungan sebelumnya, ‘jodoh, umur, rejeki, cuma tuhan yang tahu!’. Hehehe..

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s