Kematian, KDRT, dan Fenomena Poligini di Tanah Air

“Ndah, lo ingat kakak gw YN kan? dia meninggal dunia kemarin pagi”, begitu pesan pertama yang masuk ke inbox whatsapp saya kemarin pagi (29 januariy 2014) saat bangun tidur dan mengaktifkan hape – maklum saya sering matikan hape atau pasang ‘offline’ mode saat tidur.

Pesan itu dari sahabat saya jaman SLTP saya dulu, DW. Kami baru terkoneksi lagi setahun belakangan ini lewat bantuan teman SMA saya yang kebetulan adalah tetangganya. Baru buka mata, baru ngumpulin nyawa, di sambut berita duka. Sekitar seminggu lalu begitu juga; pagi hari, baru buka mata, hidupkan hape, dapat kabar sms dari kakak saya dan salah satu sepupu kalau salah satu bibi saya di Jakarta meninggal dunia.

Pagi tadi, saya jadi mellow. Setelah kasih balasan layak saya sempat tercenung dan terlintas, “singkat sekali hidup ini!”. Kalau bibi saya sudah cukup umur – sekitar 60 an tahun, nah kakaknya sahabat saya ini hanya beda 1-2 tahun dengan saya. Jadi ingat saat-saat saya dan beberapa sahabat lain sering main ke rumah DW dan YN ini, YN selalu tipe yang malu-malu gitu kalau kami datang. Itu dulu sekali…sekitar 22-23 tahun lalu. Kini saya ngga punya bayangan lagi seperti apa YN terakhir… Penasaran, saya tanya ke sahabat saya, apa penyebab YN meninggal, lalu apa ada keluarga yang ditinggalkan?

Jawaban pertama saya dapat baru sore hari, yaitu almarhum kena serangan jantung dan menderita hipertensi, itu semua sudah berjalan 2 tahun terakhir. Sedihnya lagi, ia meninggalkan suami dan 5 orang anak! Ngga cukup sampai di situ, anak ke-5 nya baru sebulan lalu terlahir.. duh!!😦

Makin miris dan sedih dengarnya… akhirnya saya hanya bisa sampaikan semoga suaminya sabar dan kuat dengan tantangan membesarkan 5 orang buah hati sendirian. Balasan dari DW kemudian makin bikin perasaan dan pikiran saya terkoyak… ia bilang justru suaminya lah yang bikin YN menderita sepanjang perkawinannya. Karena sang suami ternyata hobi berjudi dan main perempuan, belum lagi kalau marah-marah di rumah main fisik (KDRT). DW bilang kalau kakaknya itu kadang harus pinjam uang sana sini untuk makan anak-anak mereka.

Ngga hanya itu, satu saat sang kakak jatuh sakit dan di rawat di rumah, si suami datang bawa perempuan lainnya itu ke rumah, sampai sahabat saya ngga tahan harus marah-marah ke lelaki itu. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala dan urut dada dengar semua itu. Pikiran saya selanjutnya melayang ke anak-anak mereka.. Lebih jauh saya ketahui kalau malam setelah istrinya meninggal, suami YN itu bawa teman-temannya ke rumah pemberian orangtua YN untuk…main judi!

Gimana dengan anak-anak mereka? Yang bayi di asuh oleh sahabat saya dan suaminya, 2 anak lainnya di asuh oleh adik sahabat saya, 2 sisanya di asuh oleh orang tua si suami YN. Hancur perasaan saya bayangin gimana perasaan kelima anak-anak itu, terlebih keempat anak yang sudah tahu dunia dan hidup keseharian.

Hmmm, memang ngga guna berpikir apa yang sudah terjadi, masa lalu ngga bisa di rubah, tapi sempat juga gemas terlintas pikiran, “sayang sekali YN ngga ber-KB untuk menyetop keturunan sedini mungkin saat tahu suami punya karakter jauh dari bertanggung-jawab seperti itu…andai anak mereka hanya 1 atau 2 saja, kondisi mungkin masih bisa lebih baik…walau entah di mana lebih baiknya…”

Mendengar semua itu, saya hanya bisa geram, gemas, dan makin antipati dengan karakter banyak lelaki di tanah air. Okay, ngerti ngerti…tentulah ngga semua lelaki Indonesia hobi judi dan senang main perempuan. Bersyukur almarhum bapak saya setia dan penuh pengabdian pada istri dan anak-anaknya yang segambreng jumlahnya, abang-abang kandung saya penuh cinta, tanggung jawab, dan sejauh ini setia-setia saja sama istri dan anak-anaknya, walau salah satu dari mereka saya amati ada kencederungan untuk ‘mewajarkan/melumrahkan’ konsep poligini – tapi ia dan istrinya kelihatan termasuk yang pro dengan konsep itu.

Tapi yang saya maksudkan itu, semakin hari kehidupan perkawinan di Indonesia semakin ramai oleh kasus dan wacana poligini, dengan mengusung ragam alasan ‘relijius’. Lelaki makin merajalela gotong royong bangun imej kalau poligini itu keniscayaan dan hal yang ‘harus’ di terima secara sosial bagi masyarakat muslim, dari level ekonomi teri sampai ekonomi kantong luber, level kerja kasar sampai pejabat negara, terang-terangan buka cabang rumah tangga maupun ngumpet-ngumpet dulu karena berbagai alasan dan pertimbangan/strategi.

Konsep dan gejala penyakit sosial superioritas lelaki di tanah air yang saya amati makin parah. Pembentukan opini kalau lelaki berpasangan ganda itu wajar dan harus diterima itu mengerikan… saya kesulitan mengingat acara kumpul dengan teman-teman yang ngga ada celotehan dan candaan berbau seksual atau fenomena lelaki cari istri/pasangan lagi. Sebagian mungkin sekedar bercanda, tapi feeling saya sebagian besar sersan alias serius santai… cuma antara takut, ngga mampu, ngga siap, atau belum dapat kesempatan ketemu WIL.

Bagi saya fenomena itu hampir menjijikkan!😦 Potret kumpulan lelaki yang hidupnya dalam kungkungan dan kontrol penis dan syahwat. Sebagian kecil mungkin ber-poligini karena murni menolong dan ngga ada motif seksual, tapi sebagian besar saya yakin ngga hanya ikut arus dan pembenaran sistemik kaum lelaki yang di bahan bakari interpretasi atas teks-teks relijius terkait poligini.

Kematian YN sendiri mungkin ngga bisa dikaitkan langsung dengan praktek poligini dan KDRT, dalam tulisan ini ‘kematian’ saya sebut hanya sekedar rangkaian info yang membawa saya ke isu praktek poligami di tanah air. KDRT sendiri, yang saya amati cukup erat kaitannya dengan praktek poligini, khususnya saat pasangan yang menduakan ngga mampu mengatur diri dan tujuan mendua-nya dengan baik dan damai.

Secara umum, hal yang menggelitik saya adalah:

Ada apa dengan alam pikir dan rasa (mayoritas) lelaki kita di tanah air?

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s