Belajar mandarin: titik cerah di 2014…

Baru 2 tahun belakangan ini aja saya mulai tergerak dan minat seriusin belajar bahasa Mandarin. Jujur saja 3 tahun pertama di Cina saya masih belum keluar dari mental block sama tulisan kanji Cina (termasuk Jepang & Korea), selain persoalan tone dalam bahasa Cina. Persoalan tone bikin saya pusing dan malas belajar. Belajar bahasa Mandarin sempat jadi momok buat saya karena saya harus mulai dari bukan NOL lagi tapi beberapa derajat di bawal nol.. :p

Sebetulnya saya cenderung cepat nangkap pelajaran bahasa, tapi untuk bahasa ber-alphabet roman/latin. Cuma lucunya bahasa di luar aplhabet itu ada beberapa yang pernah menarik minat saya, yaitu; Rusia (karena saya pikir bakal ‘cool!’ bisa nguasai bahasa negara adi daya saat itu), dan bahasa Arab (lebih ke kebiasaan karena saya dapat pelajaran bahasa itu bersamaan dengan belajar bahasa sendiri).

Jadilah 2 tahun belakangan ini saya usaha belajar Mandarin secara otodidak dengan berbagai cara yang acak; podcasts khusus belajar Mandarin keseharian, kamus-kamus Inggris-Cina bergambar untuk anak-anak SD yang berisi 500 kosakata dasar Mandarin, situs-situs bahasa Mandarin secara acak, Mulai nonton drama/film Cina di TV maupun internet (I love Youku!), pasang translator di hape, menghapal kosakata tiap hari, Mulai pasang kuping terang-terang di tempat publik kalo ada orang-orang lokal ngobrol di seputar saya – untuk latihan ngenal kata dan tone pengucapan, buku teori pelajaran bahasa Cina yang di kasih teman (my thanks to Hct!), termasuk ber-bisnis Taobao sambil belajar mengenal kosakata terkait belanja/ pengiriman/ produk/ dsb, sesekali dengarin radio lokal sekedar untuk melatih pendengaran dan membiasakan dengar tone-tone (intonasi) dalam Mandarin.

Tapi setahun belakangan saya mulai berpikir untuk serius belajar Mandarin lewat kursus atau kuliah. Banyak alasan, tapi yang pokoknya adalah saya merasa lingkungan belajar dan pengkondisian jadwal & program bakal cukup ngebantu saya belajar, mempercepat penguasaan. Saya kagum sama orang yang punya disiplin diri tinggi hingga tetap bisa belajar optimal tanpa ruang kelas dan jadwal/sylabus dari pihak lain.

Saya sendiri bisa bikin program/silabus sendiri, bikin jadwal sendiri, tapi biasanya hanya bisa berjalan 1-2 bulan, atau minimal musiman, lebih lama dari itu biasanya saya tergoda hal baru.. ternyata lagi saya tipe pembosan untuk kegiatan rutin kecuali ada ‘paksaan’ dan berkonsekuensi serius kalau tidak dilakukan..

Kalau kursus-kuliah jelas keluar uang, jadwal lebih mengikat dan berdampak serius kalau ngga di jalani (ketinggalan pelajaran dong, lebih dari sekedar nilai di atas kertas), ada ujian yang mengikat dan ‘memaksa’ diri untuk belajar lebih rajin dan tepat waktu, mau ngga mau saya akan terkondisi untuk belajar serius dengan hasil terukur.

Awal tahun baru 2014, saya kenalan dengan mahasiswi Indonesia yang sedang belajar Mandarin di kota Harbin (di provinsi terutara Cina, Heilongjiang). Dia ini dulunya murid suami saya waktu kami masih tinggal di Jakarta. Bulan lalu ia sedang keliling liburan musim dingin, termasuk mengunjungi Xian. Kami ajaklah dia join ke new year day pot luck dinner. Saya tanya kalau ia dengar obrolan antar orang lokal, berapa persen ia bisa ngerti? Jawabnya sekitar 40% an ia bisa tangkap. Amazing-nya, itu setelah ia belajar (baru) 4 bulan! Semangat banget deh dengernya..😀 (thank Ysc!)

Masih bulan lalu, sekitar pertengahan bulan saya ngobrol dengan mahasiswi Indonesia yang belajar Mandarin di Xian. Saya tanya dia apa selama 6 bulan kuliah disini ia bisa kuasai minimal 500 kosakata dasar/keseharian masyarakat lokal? Ia bilang dengan pede, ‘Ya! bahkan lebih..’. Wow! Lebih lanjut ia bilang kalau ia merasakan perkembangan amat pesat dengan belajar serius dalam format perkuliahan, terlebih belajarnya di lingkungan penutur asli (thank Ek!)

Salah seorang teman Indonesia di sini juga sempat nunjukin beberapa buku belajar menulis yang ada sedikit tinjauan teori-nya (thank Mm!). Waktu masih di kota Daqing dulu saya sempat belajar menulis karakter secara otodidak. Guru saya google translator, hihi.. itu karena saya terinspirasi oleh murid-murid TK di mana saya mengajar. Saat lihat mereka belajar menulis karakter kanji Cina dari nol saya jadi mikir, “wah, kenapa ngga saya berpikir dan lihat diri saya sebagai anak-anak TK lokal? mereka belajar tulis dan bahasa sendiri dari nol besar, saya juga pasti bisa!”.. akhirnya dari situ saya beli buku catatan kecil seperti mereka pakai di sekolah😀 Setelah berjalan beberapa bulan, saya pun bosan dan kehilangan motivasi..😦  Payah deh belajar sendiri! Masih di Daqing dulu, sempat juga panggil guru prifat, tapi hanya berjalan 1-3 bulan.. gurunya (sekaligus teman baik) pulang kampung, dan saya kehilangan motivasi karena saat itu sedang fokus ke hal lain.

Tahun baru, perspektif dan motivasi baru

Akhirnya setelah timbang timbing, pikar pikir (maafkan bahasa seenaknya saya yah! :p), tekad saya makin kuat untuk seriusin Mandarin. Info perkuliahan dan pendaftaran udah dapat, kesepakatan dengan suami udah bulat, tinggal isu finansial. Kami ada sedikit deposito di Indonesia. Maksud hati buat nambah tabungan beli rumah, apa daya kelihatannya dana itu kita pakai dulu untuk biaya kuliah 1 semester disini. Saya merasa 1 semester aja cukup, untuk bekal dan pemantapan dasar, setelah itu saya harus berenang sendiri di samudra penutur Mandarin selama kami masih hidup di negeri ini. Kecuali saya beruntung bisa dapatin beasiswa untuk lanjut, ya ngga nolak banget dong! Hehe.. *ngarep.com*

Jadi, salah satu action plan nambah ilmu di tahun 2014 ini seperti saya sebut di tulisan sebelumnya sedang dalam proses. Setelah komunikasi intens sama pihak bank di Indonesia, akhirnya dapat titik cerah yang bikin harapan makin dekat terwujud. Saya tinggal lakukan beberapa hal teknis supaya keluarga di Indonesia bisa mewakili saya untuk pencairan dana dan pengiriman ke Cina. I can’t thank the universe enough!

Perkuliahan mulai bulan Maret, jadi saya masih punya sebulan lebih untuk urus keperluan teknis dan dokumen di Cina maupun di Indonesia. Semoga semua urusan berjalan lancar. Semoga ‘the universe conspires more to help!’. Semangat bergairah dan…semangat!😀

4 thoughts on “Belajar mandarin: titik cerah di 2014…

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s