Tahun 2014, tahun kunyit…

Sedapat mungkin masak sendiri, sedapat mungkin masak nasi kuning atau taruh kunyit di berbagai masakan sehari-hari kami..
Sedapat mungkin masak sendiri, sedapat mungkin masak nasi kuning atau taruh kunyit di berbagai masakan sehari-hari kami..

Ngga ada yang pingin kena penyakit degeneratif, tapi ngga semua orang juga punya cukup komitmen untuk konsisten praktekkan langkah pencegahan. Pastinya karena berdisiplin itu ngga mudah. Sementara menjaga kesehatan itu jelas butuh komitmen kuat dan disiplin yang baik.

Tahun 2014 ini komitmen besar kami adalah diet sehat. Selain pingin merasa hidup lebih sehat sampai tua, motivasi besar kami adalah pengobatan penyakit degeneratif itu muahal, ngga kejangkau sama kami yang nafkahnya hanya cukup buat hidup layak sehari-hari plus sedikit tabungan buat beli pondok istirahat untuk masa tua. Asuransi? Kami masih merasa sistem asuransi itu ngga fair dan lebih mengungtungkan pihak pengumpul uang (penyelenggara asuransi dan bank). Yang kami tahu kami (sangat) mampu lakukan adalah; pencegahan.

Kalau sudah jaga kesehatan habis-habisan lalu di ujung jalan masih juga terserang penyakit degeneratif? Itu cerita lain. Poinnya bagi saya dan suami adalah, kita lakukan apa yang kita tahu dan mampu. Sambil terus nambah pengetahuan seputar kesehatan. Diluar itu, sudah di luar kontrol kita… poinnya adalah ‘berusaha sebaik kita mampu’.

Di akhir tahun 2013, suami saya ‘dikelilingi’ oleh isu kanker. Beberapa orang yang ia kenal di kampung halamannya menderita kanker, salah satu dari mereka sering kasih update harian lewat fesbuk; cerita gimana kondisi dan perasaan dia hari itu, dan pengobatan apa yang lagi dijalani, juga gimana rasanya pengobatan itu. Termasuk awal tahun ini, ibu dari sahabatnya di Timmins-Kanada meninggal dunia, terkena kanker juga😦

Efeknya ia makin giat pelajari apa gimana kanker, diet dan pola hidup apa yang bisa kami lakukan untuk mencegah itu terjadi pada kami. Long story short, salah satu diet sehat kami adalah konsumsi kunyit serutin mungkin. Orang Indonesia tentu ngga asing lagi sama kunyit. Masih kecil dulu jamu kunyit asam dan kencur adalah favorit harian saya…kalau sore atau pagi hari keluarga saya sering nyetop dan beli jamu-jamuan gendong ini.

Jadilah kini hampir tiap hari nasi kami di rumah adalah nasi kuning. Sedapat mungkin kami usahakan masak dan makan di rumah. Menu India (yang kaya rempah termasuk kunyit) dan menu lain yang sehat dan menyehatkan mulai kami rajin konsumsi harian. Di rumah kami; coke sudah total absen, sprite yang biasanya jadi penghuni tetap kini sangaaat jarang ada di kulkas, kopi dari yang sehari bisa 3-5 kali sehari (bagi suami saya) jadi bisa 3-5 kali dalam 2 atau 4 minggu. Penggantinya, teh masala India jadi minuman rutin kami tiap hari, 2-3 kali sehari. Itupun bikin racik sendiri, bukan teh masala instan beli di luaran. Kenapa teh masala? Fokus kami karena cardamom ternyata anti inflamasi yang cukup tinggi buat tubuh. Kalau ada pembengkakan, infeksi, cardamom ngebantu penyembuhan cepat. Itu hanya sebagian khasiat dari yang kami baca online.

Kunyit sendiri kami hajar tiap hari karena kadar antioksidannya dikabarkan amat tinggi. Sampai suami saya bilang, “pokoknya usahakan tiap kali masak kita pakai kunyit. Saya ngga peduli kalo sampai badan saya kuning sekalipun!”, hahaha.. Beres deeeh, bos!

Dapur kami jadi ngga putus dari rempah India selain rempah dasar Cina tentu; kunyit, green cardamom, cengkeh, daun salam, jinten, fennel, kayu manis, buah pala, asam, kari, biji ketumbar, cabe merah bubuk, garam masala. Segera menyusul setelah libur imlek ini selesai; fenugrek, biji mustard, biji seledri, panch phoran, biji hitam/habatussaida/nigella, dsb. Saat ini rata-rata toko Taobao masih tutup – berlibur :p

 

Jadi masakan India kelihatannya jelas akan dominan dalam keseharian kami. Seperti tadi malam contohnya, kembali kami masak menu India. Ngga ada nama khusus karena bumbunya hasil modifikasi beberapa resep India yang saya ingat dan kami berdua suka rasanya. Inspirasi bumbu dasarnya dari menu 2 malam lalu (Bagara Baingan alias jadi Bagara Chicken😉 hehe..), yang kali ini terongnya saya ganti ayam (lagi!), paprika hijau, dan seledri besar..

Tapi selain masakan India saya buat satu menu lagi, masakan Cina, isinya irisan wortel dan sayur akar (yang saya belum tahu juga namanya. Biasanya sih tumisan sayur ini terdiri dari kentang, sayur akar itu, dan ayam…yang ketiga bahan itu di iris tipis memanjang. Bumbunya yang simple banget justru bikin tumisan ini jadi salah satu favorit kami. Dasarnya cuma kecap asin, garam, gula, MSG, dan saus penyedap macam maggi punya. Masak cepat di api panas, gitu di makan bareng nasi hangat, beuh..bikin gak mau udah! Yang anti MSG tentu bisa hindari bahan satu itu🙂

Gimana dengan kamu? Pernah, akan, atau sedang jalani program diet sehat juga kah? Boleh berbagi info dan tips keberhasilannya?

Terinspirasi oleh resep India Bagara Baingan, hanya 'baingan' alias terongnya di ganti dengan ayam, paprika hijau, dan batang seledri besar. Sedap dengan rasa gurih kacang.
Terinspirasi oleh resep India Bagara Baingan, hanya ‘baingan’ alias terongnya di ganti dengan ayam, paprika hijau, dan batang seledri besar. Sedap dengan rasa gurih kacang.
Tumisan sayur ala Cina. Kentang saya ganti wortel karena sudah dapat karbohidrat dari nasi. Menu satu ini ngga bikin bosen; sederhana, gampang, murah, lezat, dan cepat!
Tumisan sayur ala Cina. Kentang saya ganti wortel karena sudah dapat karbohidrat dari nasi. Menu satu ini ngga bikin bosen; sederhana, gampang, murah, lezat, dan cepat!

 

4 thoughts on “Tahun 2014, tahun kunyit…

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s