Pulla – Finnish coffee bread (bag 2)

Nikmat jadi camilan saat musim dingin. Teman paling puas buat Pulla ini buat kami adalah teh masala, atau kopi seperti di Finlandia.
Nikmat jadi camilan saat musim dingin. Teman paling puas buat Pulla ini buat kami adalah teh masala, atau kopi seperti di Finlandia.

Dalam tulisan bagian satu saya berceloteh soal ini itu seputar Pulla dan kenapa saya akhirnya coba tepis ‘ketakutan’ saya akan ragi dan bikin yang judulnya roti-rotian🙂 Nah sekarang saya pingin bagi catatan seputar proses bikinnya dan tentu resep dan cara buatnya… Semoga membantu yang baru-baru coba bikin roti dan belajar otodidak seperti saya..🙂

CATATAN SAAT PEMBUATAN

1. Ragi: Resep minta kita pakai ‘active dry yeast’, nah yang saya punya itu ‘instant dry yeast’. Saya cari tahu online dulu apa ada beda antara kedua tipe itu..ternyata banyak sumber bilang beda. Satu sumber bilang, ‘active dry yeast’ itu cenderung ‘old fashioned’ alias udah jadul (CMIIW yah..). Lalu cara penggunaannya juga beda; ‘active dry yeast’ di resep bilang musti ‘campur air hangat dulu sebelum di campur ke adonan tahap pertama’, sementara ‘instant dry yeast’ di paket-nya tertulis (terjemahannya) ‘campurkan ke bahan terigu atau campurkan saat proses pengadukan adonan tahap pertama’.

Sempat bingung dan ragu gitu, akhirnya saya putuskan langsung campurkan yeast saya ke adonan kering dulu (terigu, garam, gula, biji cardamom giling) untuk di aduk rata pakai metal whisk (kocokan metal manual), baru gabungkan bahan basah (telur kocok, susu) seperti di sebut dalam resep.

2. Greasing/Pengolesan minyak: Sayang ngga disebut peminyakan/pengolesan minyak ke wadah adonan dan bahan adonan itu pakai minyak sayur, butter, atau minyak semprot khusus baking, jadi saya pakai yang ada aja – butter cair sisa jatah untuk adonannya.

3. Tempat hangat (85 Fahrenheit/29 Celcius) untuk mendiamkan/mengembangkan adonan: Saat bikin ini masih winter, suhu ruang memang hangat tapi kayaknya ngga sampai 29 C deh.. dugaan saya paling 20-23C saja. Karena sistem penghangat gedung kami berupa pipa bawah lantai jadi baskom alumunium adonan saya taruh di atas lantai yang bersuhu paling hangat selama proses pengembangan 1 jam, plus ekstra 30 menitan lagi setelah di ‘tonjok-tonjok’ sedikit sebelumnya.

4. Penyampuran adonan: di resep ngga di perjelas apakah pencampurannya pakai mesin (mixer) tapi mengingat sudah sejak awal di sebut kalau Pulla ini bukan tipe roti yang ringan dan mengembang (light and fluffy). Jadi saya pikir mustinya roti ini agak padat (dense). Setahu saya pengocokan pakai mixer itu bikin hasil akhir ringan dan mengembang, contohnya cake dan sponge cake (CMIIW as always!), jadi saya putuskan cukup aduk adonan pakai metal whisk. Semoga betul dan ngga kontraproduktif…

5. Temperatur oven: Resep bilang atur suhu oven di 204C. Tapi, dugaan saya ia merujuk ke oven ‘betulan’ yang besar dan sudah standar ada di dapur-dapur keluarga Amerika (soalnya penulis bukunya warga sana). Sementara oven kami adalah tipe kecil, kalo gak salah di sebut ‘convection oven’. Menurut tips-tips online dan pengalaman sendiri, saya harus turunkan suhu dari suhu yang di minta, kalau ngga mau masakannya gosong atau matang di luar tapi mentah di dalam. Jadi, suhu saya mainkan antara 170-185C. Tips online ada yang sarankan turuni suhu sekitar 5-15 derajat.

6. Taburan terigu saat kneading (pengulenan) adonan setelah didiamkan/dikembangkan, dan saat di bentuk dan kepang/sesuai bentuk kita mau perlu dijaga jangan terlalu banyak, tadi pagi ibu mertua saya bilang (saat chating) takaranya cukup sampai kedua tangan tidak lembab/berkeringat dan jadi lengket saja saat nguleni dan ngebentuk adonan menjelang di panggang. Kalau kebanyakan gimana? Katanya sih akan bikin rotinya jadi terlalu padat dan keras.

Setelah pengembangan 1 jam itu (saya pasang alarm) sih adonan kelihatan (dan terasa) melembut banget (moga-moga emang musti begitu ya?!), mengkilap dan berminyak juga (karena olesan butter di permukaan adonan sebelum didiamkan), mustinya sih saya tonjok saja, tapi agak lupa waktu saya buka tutupnya spontan saya uleni sejenak dulu (kneading), trus baru tonjok-tonjok sedikit, bolak balik. Semoga ngga jadi rusak karena saya uleni dulu yah.. *jadi was-was dikit*.. Sementara ukurannya, di resep bilang setelah didiamkan 1 jam mustinya adonan jadi dobel ukurannya, nah perasaan saya waktu buka tutup wadah sih ngga terkesan dramatis membesar dua kali lipat.. duh..nambah was-was jadinya..

HASIL AKHIR

Karena ini pengalaman pertama bikin roti jadi saya cuma bisa coba ikuti apa yang di mau oleh resep, tapi ngga pasang harapan terlalu tinggi. Intinya sih, “lakuin aja dan lihat nanti”. Dari setengah takaran resep itu jadi 2 Pulla kepang, sebagaimana khas-nya di Finland (selain Pulla bun dan Pulla cinamon roll, menurut info satu situs masak yang saya temui), dan 1 loyang Pula cinamon roll (ukuran dan jumlah lihat foto-foto terlampir). Pulla kepangnya ukuran kecil – sesuai ukuran oven saya.

Gimana hasil akhirnya?? Cukup sukses! Yuhuuu..😀 Buat saya itu sukses besar karena ini pertama kali bikin roti (selain roti pizza duluuu banget yang ternyata gagal, tapi maksud saya selain roti pizza). Suami kelihatan sangat terkesan dan sempat saya lihat berbinar matanya, hahaa.. sambil ngunyah dia bilang, “oh wow, my wife made Pulla!!” :D pertama jadi itu Pulla cinamon roll, itu sudah sekitar jam 3 pagi, dia ngga tahan dan seloyang roll tinggal setengah dalam sekejap. Ibu mertua, tadi pagi dia juga terdengar surprise dan kasih pujian terutama karena saya biki pakai convection oven yang menurut dia lebih rumit dalam hal pengaturan temperatur di samping ukurannya. Karena itu beliau bilang, “…you’re doing great with that!”. 

Probably wasn’t the best Pulla or cinamon roll but it does the trick after not having it for a while.. ;D another thing is, bread has not been my thing. I don’t come from ‘bread maker’ family or culture, so I understand they were surprised. I feel so good about it!🙂 I feel like I won over my fear of yeast and bread making, lol..

Pulla kepang pertama bawahnya sedikit gosong, karena saya belum sesuaikan suhu oven. Bagian atas roti ternyata kurang masak, tapi ngga buruk-buruk amat. Kami makan setengah, setengahnya lagi diam-diam saya buang..ngga eatable! Pulla kepang kedua yang lebih sukses. Tapi lain kali saya bakal taruh kertas baking untuk nahan panas dari permukaan loyang supaya bagian bawah roti ngga terlalu cepat matang..atau gosong seperti Pulla yang pertama.

Overall, pretty satisfied. Next time will do and get better!😀

***

PULLA YEAST COFFEE BREAD – Beatrice A. Ojakangas

Bahan adonan:

1 paket ‘active dry yeast’

1/2 cup air hangat

2 cup susu cair – dipanaskan dan diamkan sampai suhu hangat/suam-suam kuku

1 cup (atau kurang) gula pasir

1 sdt garam

7-8 polong kapulaga (cardamom pods) – di kupas kulitnya, ambil dan tumbuk halus bijinya (bagusnya pake coffee grinder/food processor/blender/ulekan batu)

4 butir telur, kocok rata.

8-9 cup terigu putih di ayak (saya pakai all purpose flour – hanya di aduk pakai metal whisk/kocokan metal manual karena ngga ada ayakan).

1/2 cup butter cair. (butter beda sama mentega yah, untuk yang belum ‘ngeh’)

Bahan Olesan (glaze):

1 butir telur, kocok.

1/2 cup almond tumbuk atau iris (pilihan saja/ngga harus)

1/2 cup gula putih tumbuk (kayaknya saya ganti gila pasir saja krn ngga punya gula tipe ini).

Cara bikin (sesuai resep hanya penulisannya saya modifikasi supaya lebih jelas):

Langkah 1:

– Larutkan ragi dalam air hangat.

– Masukkan gula, garam, cardamom/kapulaga, telor, dan terigu secukupnya (sekitar 2 cup), ke dalam wadah berisi susu. Aduk rata hingga adonan mulus dan mengental elastis.

– Tambahkan sekitar 3 cup terigu dan aduk rata. Adonan setelah di aduk harusnya terlihat mulus dan mengkilap. Baru masukkan butter cair, aduk rata. Kocok lagi sampai adonan terlihat mengkilap. Lalu masukkan sedikit-sedikit sisa terigu sambil di aduk rata, sampai adonan terbentuk kaku (tidak encer atau lengket, dan siap di uleni/bentuk)

Langkah 2:

– Taruh adonan di atas papan yang sudah di taburi terigu (sekedar utk tidak lembab saja) sebelumnya, lalu tutup dengan membalik wadah adonan. Biarkan/diamkan 15 menit.

– Lalu uleni adonan pakai tangan sampai mulus dan lembut bersinar. Taruh di wadah yang sudah diminyaki ringan sebelumnya, balik adonan dan minyaki bagian permukaan satunya, tutup asal saja, dan biarkan/diamkan selama 1 jam di tempat hangat (sekitar 29C) sampai ukuran membesar 2 kali lipat.

– Setelah 1 jam, tonjok adonan dan biarkan mengembang lagi hingga dua kali lipat (sekitar 30 menit).

Langkah 3:

– Balik dan taruh adonan di atas permukaan yang sudah di taburi terigu (jangan banyak2..ingat hanya cukup untuk bikin permukaan atau tangan ngga lembab saja).

– Bagi adonan jadi 3 bagian. Lalu bagi tiap bagian jadi 3 sub-bagian. Ini terutama kalau mau jadikan Pulla kepang semua, kalau saya jadinya 2 Pulla kepang, dan 1 bagian jadi seloyang cinamon roll.

– Tiap sub bagian di pilin memanjang seperti tali rapia. Jajarkan 3 pilinan dan mulai kepang seperti mengepang rambut, kaitkan ujung-ujungnya dan lipat ke bagian bawah hingga ujungnya terlihat bersembunyi. Sisihkan. Lakukan lagi hal saya ke 2 bagian adonan lainnya, hingga jadi 3 Pulla kepang.

– Letakkan Pulla kepang ke permukaan kertas baking dan diamkan adonan sekitar 20 menit (adonan roti akan sedikit mengembang lagi tapi ngga sampai dua kali lipat.

– Olesi tiap adonan dengan telur kocok lalu taburi irisan/tumbukan almond atau gula kasar tumbuk (beda dengan gula pasir). Itu optional, kalau suka saja. Ide saya buat eksperimen bisa juga di taburi walnut bubuk, kayu manis bubuk, kelapa parut, kacang mete tumbuk, atau lainnya yang anda atau keluarga suka.

– Panggang sekitar 25-30 menit dalam oven 400F/204C – jika oven besar khas dapur Amerika atau Eropa, atau 170-185C – jika convection oven (oven kecil) khas Asia.

Selamat mencoba! Kalau punya cerita pengalaman, tips, dan info seputar bikin Pulla dan roti boleh dong di bagi-bagi disini, saya bakal senang dapat ilmu baru dari sesama peminat baking dan roti..🙂

Berikut ini rangkaian foto kronologis saat saya bikin Pulla kemarin malam/dini hari…

Desktop7

Desktop2-001

Desktop3

Desktop4

Desktop5

Desktop6

Desktop8

Desktop9

Desktop10

Desktop11

5 thoughts on “Pulla – Finnish coffee bread (bag 2)

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s